Avatar
Hello Guest!
0
Kalau Tuhan Sudah Berkehendak
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
August 22, 2018
0

(Sebuah rangkuman sharing dialog kontemplatif di rumah Esti/Wahyu, Selasa, 22 Agustus 2018)

Pemahaman tentang asas dasar yang diajarkan Santo Ignatius Loyola membiasakan teman satu ini (Wahyu) selalu bertanya ‘apa tujuanya’ atas semua hal yang dialaminya. Misalnya kalau hendak pergi ke suatu tempat, pertanyaan yang muncul apa tujuan saya ke sini? Tak hanya persoalan purpose/maksud tetapi pertanyaan ‘mengapa’ juga melengkapi. Dua pertanyaan ini seolah identik dalam setiap langkah.

Maka dalam dialog kontemplatif kali ini sebagian besar kawan menceritakan pengalaman dan pergulatannya dan nyaris selalu bertanya “why”, mengapa saya mengalami ini. Abdi yang keluar dari Serikat Jesus karena tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan selama puluhan tahun juga menanyakan ‘kenapa ini mesti terjadi?’ hingga suatu saat pertanyaan mengapa terjawab bahwa dirinya punya tugas untuk membantu banyak orang yang kerap kurang punya pengalaman pribadi akan Yesus. Pertobatan yang dialami di tahun 2015 menjadi titik tolak untuk makin menegaskan misi hidupnya memberi pencerahan bagi anak-anak muda. Dan pertanyaan atas ‘tujuan hidup’ itu terjawab sudah.

Pak Winoto menemukan pertobatan dan pembalikan hidup dimulai dari hal-hal sepele. Pengalaman kerap berselisih dengan pasangan selama puluhan tahun karena hal-hal sepele, dia yang selalu ceroboh, teledor sementara istrinya yang rapi, teratur juga sempat membuatnya bertanya ‘mengapa’. Namun pengalaman itu akhirnya membawanya pada satu pertobatan, perubahan hidup yang cukup fundamental. “Dulu saya memang sombong, tapi istri sayalah penyelamatnya,”ujar sesepuh Sesawi ini. Pengalaman Bernadeth nyaris mirip seperti Pak Wi.

Lain lagi dengan Irwan Setiabudi. Penegasan tentang asas dan dasar bahwa tujuan hidup adalah untuk memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan membuatnya makin yakin untuk mengisi masa pensiunnya mengurus anak-anak panti asuhan. “Saya makin yakin bahwa inilah tugas yang harus saya jalani,”ujarnya. Rupanya wawan hati ini membuatnya yakin atas hal yang selama ini masih dia ragukan.

Sementara Esti menceritakan betapa keberanian untuk memilih kebenaran dalam setiap pilihan yang harus dibuat di tempat kerja dibanding memilih hal-hal yang lebih menguntungkan pribadinya justru membuatnya merdeka. Tuhan selalu memberi jalan dan membantunya. Dari ceritanya seolah kalimat, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat.6:33-34) bergema.

Pengalamannya mengejar keinginan punya anak lagi akhirnya stop ketika pernyataan,”kamu tidak bisa memaksa Tuhan untuk mengikuti keinginanmu. Rezeki, jodoh, dan lain-lain itu Tuhan yang ngatur,”dilontarkan padanya oleh seorang dokter muslim yang ditemuinya.

Dan mirip sekali dengan pengalaman Ignatius, Wulan mengungkapkan pengalaman luar biasa saat dirinya benar-benar tidak lagi fokus pada upaya mengejar keinginan “memiliki anak”. Titik itu dimulai saat setelah menikah puluhan tahun lalu hamil. Namun sayang, tidak lama (hanya tujuh minggu), bayi yang di kandungan itu harus digugurkan karena di luar rahim. Stres, marah dan kecewa pada Tuhan, itulah yang berkecamuk di hatinya selama berbulan-bulan.

Namun justru pengalaman-pengalaman setelahnya membuatnya yakin betapa Tuhan punya rencana lain atas dirinya. Pengalamannya membantu komsos KWI (menjadi penulis) di berbagai keuskupan, menjadi tempat curhat teman-temannya membuatnya yakin Tuhan telah menunjukkan rencana yang lebih besar dari sekadar “menunggu kedatangan anak.”

Dan cerita Paulus menegaskan bahwa setiap langkah yang kita lakukan pada dasarnya selalu merupakan tarik ulur antara memenuhi keinginan/ambisi pribadi dengan Kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah berkehendak, cepat atau lambat harus dijalani.

Read more
Memperkenalkan St. Paulus Miki (1565 – 1597 / 33 th), Martir Kudus Asli Jepang
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
July 3, 2018
0

KUNJUNGAN peziarah ke Nagasaki, Jepang, membuat hati tidak bisa berhenti diam. Betapa menyedihkan perjalanan kristianitas di Jepang ini, dengan tumpahnya darah para martir yang begitu banyak, khususnya di Nagasaki, namun sekaligus membanggakan sebagai sesama saudara seiman karena generasi awal yang memiliki iman setangguh itu. Jelas peziarah langsung terpukul, betapa rapuhnya iman peziarah dibandingkan mereka. Uh.. Tak ada apa-apanya. Demikian kegelisahan peziarah ingin diungkap dengan sharing ini supaya para pembaca sempat mengikuti dan berjalan bersama.

Monument di Bukit Para Martir, Nishizaka, Nagasaki

Catatan singkat Santo Paulus Miki

Lahir dari keluarga Kristen yg sangat terhormat dan terpandang karena kedudukan Samurai / Ksatria dari ayah yang bernama, Miki Handayu. Dia adalah salah satu murid unggulan dari Seminari Azuchi. Dia masuk Serikat Jesus di tahun 1585 dan dia dikenal sebagai salah satu pengkotbah ulung di Jepang. Sesudah menyelesaikan study di Arima dan Amahusa, Dia berkotbah di Nagasaki dan Osaka. Dia hampir ditahbiskan menjadi imam ketika dia ditambahkan ke bilangan kelompok 26 Martir yang disalibkan di bukit Nishizaka, Nagasaki pada 5 Feb 1597.

St. Paulus Miki di atas kayu salib

Dalam perjalanannya dari Kyoto ke Nagasaki (sekitar 900 km / jalan kaki 1 bulan), dia berkotbah setiap hari. Kotbah terakhir yang disampaikan di atas salib demikian :
Kamu semua yang ada di sini, dengarkanlah saya. Saya bukan orang Philipina, saya orang Jepang asli dari lahir dan saudara dalam Serikat Jesus. Saya tidak melakukan kejahatan dan satu2nya alasan mengapa saya dihukum mati adalah bahwa saya telah mengajarkan ajaran Tuhan kita Yesus.

Reliqui ketiga saudara SJ

Saya bersukacita untuk kematian dengan alasan tersebut dan saya melihat kematian saya sebagai sebuah rahmat yang besar dari Tuhan. Di waktu yang sangat pendek ini, yakinlah bahwa saya tidak sedang memperdaya kamu, saya ingin menekankan dan membuatnya jelas bahwa manusia tidak akan mendapatkan keselamatan kekal kecuali menjadi orang Kristen. Hukum Kristen mengajarkan bahwa kita harus mengampuni musuh2 dan mereka yang bersalah kepada kita. Oleh karena itu saya harus mengatakan di sini bahwa saya mengampuni Taikosama (Hideyoshi yang menyalibkannya). Saya sangat berharap bahwa seluruh orang Jepang menjadi Kristen. (Catatan dari Fr. Luis Frois, 1597)

Nb. Catatan kotbah ini disampaikan jauh sebelum Konsili Vatikan kedua 1962-1965 yang buah hasilnya salah satunya adalah ajaran Gereja bahwa keselamatan ada di luar Gereja.

St. Paulus Miki

Berikut daftar ke 26 Martir yang disalibkan di Bukit Nishizaka di Nagasaki atas perintah Toyotomi Hideyoshi, 5 Feb 1597, 20 Santo asli Jepang dan 6 imam asing :
1. St. Francis
2. St. Cosmas Takeya
3. St. Peter Sukejiro
4. St. Michael Kozaki
5. St. James Kisai SJ
6. St. Paul Miki SJ
7. St. Paul Ibaraki
8. St. John of Goto SJ
9. St. Louis Ibaraki
10. St. Anthony
11. St. Peter Baptist OFM
12. St. Martin of the Ascension OFM
13. St. Philip of Jesus OFM
14. St. Gonzalo Garcia OFM
15. St. Francis Blanco OFM
16. St. Francis of St. Michael OFM
17. St. Matthias
18. St. Leo Karasumaru
19. St. Bonaventure
20. St. Thomas Kozaki
21. St. Joachim Sakakibara
22. St. Francis
23. St. Thomas Dangi
24. St. John Kinuya
25. St. Gabriel
26. St. Paul Suzuki

St. Paulus Miki dan para martir kudus dari Nagasaki, doakanlah kami.

FAA

St. Fransiskus bersama St. Jakobus Kisai, St. Paulus Miki dan Yohanes Goto

Read more
Dialog Kontemplatif Bakoel Koffie, Cikini : Diskresi Sepanjang Hidup
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
June 23, 2018
0

DISKRESI atau pembedaan roh disadari sebagai pengalaman yang sudah, sedang dan akan terus menerus dijalankan selama hidup (Yayang). Tak hanya dalam persoalan besar yang menentukan ‘hidup mati’ seseorang, istilahnya, tapi juga pada persoalan sederhana. Misalnya keputusan apakah mau ikut aktivitas sesawi atau pilih kegiatan di tempat lain. Dan masih banyak lagi.

Dalam banyak kesempatan, saat membuat keputusan seringkali kita juga tidak sadar dijebak dan dikuasai roh jahat lewat kelemahan-kelemahan kita (ambisi mencapai puncak karier, grusa-grusu tanpa perhitungan, kecenderungan meremehkan, atau sekadar senang tidak senang). “Yang mestinya ada pekerjaan tapi kok malah santai-santai nonton tv,”kata Yayang. Saat itulah kita harus terima bahwa keputusan yang dibuat seringkali kurang membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi perkembangan pribadi.

Yang aneh, kesalahan dalam memutuskan (istilah yang sering kita buat) kerapkali tidak lantas membuat kita terpuruk meski perjuangan untuk bertahan pada hal baik tidak mudah. Tuhan justru seolah mengubah kesalahan itu menjadi berkat, bermakna. Lewat akal budi, sikap pasrah Tuhan memengaruhi kita untuk memberi arti pengalaman kesalahan itu.

Tidak jarang keputusan-keputusan yang kita ambil bertentangan dengan orang banyak, bos atau mungkin tidak masuk di akal kita.”Keputusan untuk pindah kerja mungkin merupakan hal yang tidak masul akal karena harus menyelesaikan hutang rumah di kantor lama. Saat itu tidak punya uang sebanyak yang harus dibayar, tapi ternyata bisa terbayar,”ujar Abdi.

Wira yang saat ini sedang dalam kondisi ekonomi yang ‘berat’, bahasa dia menderita, merasakan sepertinya beberapa bulan lalu bahkan hingga kini serasa tidak masuk akal. “Rasanya seperti di padang gurun, tapi kok saya sendiri tidak merasa kehausan,”ujarnya. Ketekunan berdoa, kerelaan hati sekaligus upaya setiap hari mengirim aplikasi (lamaran kerja) bisa jadi itu yang membuatnya tetap bertahan kuat dalam situasi sulit.

Pengalaman lain menyatakan, Tuhan seringkali bertindak tidak seperti yang kita bayangkan. Asal kita mengikuti dorongan yang muncul dalam hati kita lalu menjalaninya dengan ikhlas, biasanya akan membahagiakan. Seperti yang dialami Dio saat mesti belajar di STM Pembangunan sementara kakak dan adik-adiknya berkesempatan belajar di SMA umum. Ikhlas dia jalani meski ada pelarian ke arah yang positif. Dia akhirnya masuk Seminari Mertoyudan dan diterima di Serikat Yesus. Lebih membanggakan meskipun akhirnya keluar.

Proses selanjutnya juga tidak terduga sama sekali kalau kemudian dia terdampar di Institut Kesenian Jakarta dan mengajar di sana, padahal sebelumnya sudah ada kesempatan kerja di Bontang. Dia hanya kebetulan diajak Ina (waktu itu belum jadi istrinya) ke kampus itu.

Demikian juga yang dialami Abdi. Dalam banyak hal, pria asal Semarang ini mendasarkan keputusannya pada feeling. Bahasa kerennya intuisi. Dorongan kuat yang dirasa diikutinya. Hingga terjadilah sesuatu yang tak diduga. Yang tadinya dia tidak tahu apa-apa tentang website lalu diikuti dorongan untuk belajar sampai tidak tidur, sekarang bisa membuat banyak hal dengan website. Demikian juga saat memutuskan hendak pindah kerja. Feeling atau dorongan kuat yang dipercaya datang dari Tuhan itu diikutinya. Yang terjadi, di tempat baru tawarannya lebih bagus.

Agak berbeda dengan Wahyu yang mengungkapkan pengalaman lain tapi esensinya sama. Pemberian prioritas dan bobot pada setiap pertimbangan yang dibuat membantunya menyelesaikan persoalan. Prioritas pada keluarga tidak lantas membuatnya kecewa telah menolak kesempatan bagus bekerja di Malaysia sebagai Pimpinan Perusahaan. Justru, prioritas inilah yang membebaskannya karena dirinya sudah lepas dari ambisi pribadi.

Pada dasarnya para bapak ini meski sudah lama sekali berkajang dalam berbagai pembuatan keputusan, kerapkali masih sering keliru, dibebani oleh kodratnya sendiri sebagai manusia dan tidak jarang jatuh dalam kesalahan. Tapi banyak juga pengalaman yang membahagiakan karena tools atau sarana yang telah dibuat Santo Ignasius (Discerment of Spirit) itu sangat membantu menimbang berbagai masalah hingga terjadilah sebuah keputusan. Ya, hidup ini seolah on going discernment, selalu mencari kehendak Tuhan.

Read more
Dialog Kontemplatif Sesi I di Resto Kembang Goela Semanggi
Agenda Kegiatan
Simon Sugito
May 31, 2018
0

Rabu, 9 Mei 2018 yang lalu, 13 anggota Paguyuban Sesawi melakukan pertemuan kecil dengan suasana ringan di Resto Kembang Goela Semanggi. Pertemuan ini sebagai tindak lanjut retret pembekalan spiritualitas Ignasian yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Dengan metode dialog kontemplatif peserta dituntun untuk merefleksikan bagaimana selama ini sesawi membangun dan memelihara persahabatan rasuli dengan bercermin pada pengalaman Ignasius di awal berdirinya serikat.

Dengan suasana santai, peserta dibagi menjadi dua kelompok kecil (bapak-bapak dipisahkan dari ibu-ibu) dengan tujuan masing-masing peserta bisa lebih leluasa ber-sharing ria. Kemudian, benang merah dari kedua kelompok kecil disatukan di tahap kedua saat semua peserta kembali ke kelompok besar.

Dari kelompok bapak-bapak, Pak Winoto menyarikan sharing kelompok dengan sangat menarik; bahwa selama ini Sesawi telah tumbuh sebagai sebuah perkumpulan (persahabatan) yang bisa dikatakan “gayeng”, terlebih saat arisan dan dalam acara-acara natalan bersama. Persahabatan keluarga Sesawi memiliki keakraban yang khas bila dibandingkan dengan kelompok lain karena didasari semangat spiritualitas yang sama.

Sementara dari kelompok Ibu-Ibu yang hadir membuat kesimpulan bahwa keluarga sesawi memberikan makna lebih dalam hidup sehari-hari. Syukur menjadi bagian komunitas ini memunculkan keinginan utk berbuat lebih banyak bagi sesawi maupun lingkungan sekitar. Bahkan ada yang menyesalkan kenapa tidak dari dulu-dulu ada sesawi sehingga friksi dan salah mengerti terhadap sikap pasangan dapat diminimalisir.

Komunitas Sesawi dirasakan memiliki “bounding” yg kuat dan memberi pengaruh dlm menyikapi kehidupan khususnya saat menghadapi masalah-masalah, sehingga muncul rasa “nyaman” utk menjadi diri sendiri dan apa adanya saat berelasi dgn teman-teman sesawi.

Hubungan dan kepercayaan yang terjalin ini jauh lebih kuat dibanding terhadap keluarga inti sendiri. Merasa memiliki kesamaan dan saling menguatkan memunculkan sikap menerima dan memahami pasangan, akhirnya bisa menerima sikap pasangan /suami yg dianggap lebih baik ketimbang kalau memiliki pasangan bukan dari sesawi.

Selalu ada kerinduan dan keinginan untuk selalu berkumpul dgn keluarga dan sahabat-sahabat sesawi krn melihat tak ada sekat dan perbedaan meski memiliki usia dan latar belakang berbeda. Nilai-nilai Ignatian tentang persahabatan, doa, dan spiritual yang didapat dari teman-teman sesawi membantu masing-masing pribadi saat menghadapi maupun menyikapi masalah hidup dan sesama. Anak-anak yang dilibatkan dlm komunitas juga memberikan rasa tenang. Pada intinya Ibu-Ibu merasa senang dan bersyukur bisa mencecap semangat Ignatian yang ditularkan pasangannya.

Sebagaimana kekhasan kontemplasi dialogis adalah sikap mendengarkan dengan keseluruhan diri, maka apa yang disharingkan menjadi bahan refleksi peserta untuk terus dikerucutkan menjadi simpulan yang akan menjadi buah rohani bersama. Di akhir sesi, Pak Winoto memberikan sebuah pertanyaan reflektif, bila sekarang ini Sesawi sudah menjadi wadah persahabatan di antara anggotanya; apa yang kemudian bisa dihasilkan?

Karena pertanyaan tersebut membutuhkan proses lagi untuk dijawab, pak Win mengusulkan supaya masing-masing anggota Sesawi melakukan apa yang mungkin bisa segera dilakukan, yaitu mengembangkan nilai-nilai spiritualitas Ignasian dalam keluarga dan masyarakat sekitar sesuai visi paguyuban dan yayasan Sesawi.

Dialog kontemplatif kali ini merupakan salah satu bentuk usaha kami untuk mencari metode-metode yang sesuai dalam menghidupkan spiritualitas Ignasian di dalam anggota. Dan pertemuan kali ini begitu hidup dan membuahkan point-point yang bisa dikembangkan. Tak terasa, pertemuan berlangsung mengalir dari jam 17.30 -22.00.

Selanjutnya, kelompok kecil ini akan mengundang anggota-anggota Sesawi lainnya untuk mengadakan pertemuan serupa dalam kelompok-kelompok kecil sesuai area tempat tinggal. Tema akan tetap memperdalam Membangun dan Memelihara Persahabatan Rasuli.

Read more
Skip to toolbar