Avatar
Hello Guest!
0
Refleksiku Atas Retret Bareng Romo Sardi SJ
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
March 26, 2018
0

KAMIS malam (22/3/18) itu Mas Narto WA saya bilang Romo menghendaki agar semua peserta mengikuti retret bertemakan Spiritualitas Jesuit Dalam Keseharian dari awal. Saya yang rencananya ingin datang hari Sabtu pagi dengan alasan khawatir kecapaian usai kerja di Jumat sore akhirnya memutuskan untuk datang Jumat sore. Bahkan akhirnya datang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan sekitar dua jam sebelum makan malam jam 19.00.

Di rumah doa Guadalupe itu gairah saya menyala. “Saya mau serius ikut retret,”pikirku. Saya bahkan ingatkan istri yang juga ikut retret agar benar-benar serius.

Sebenarnya sudah lama tidak retret serius seperti ini. Biasanya di akhir prapaskah tiga hari jelang Paskah saya dan istri ikut retret di Lembah Karmel. Ini pun retret yang sifatnya tidak Ignatian dan suasananya tidak hening. Jadi kali ini saya berniat tidak retret di Lembah Karmel. Saya pilih ikut retret pendalaman Spiritualitas Ignatian bersama Rm Sardi SJ saja.

Coba saya buka hati, mengikuti aturan yang ada dengan silentium. Membaca buku sebelum hari H meski belum selesai. Menonton film Ignacio dan mencoba mengingat-ingat lagi pelajaran yang diberikan Magister saya dulu di Novisiat, Romo Sarto Pandoyo SJ saat memberi kuliah tentang spiritualitas Jesuit. Juga memasang muka serius di kala silentium.

Usai retret, istri saya bilang,”serius banget sih.” Saya bilang, sikap ini membantu saya untuk mendisposisikan hati sehingga saya benar-benar bisa retret.

Saat retret, bahan yang begitu padat dan gaya Romo yang monoton rupanya nggak membuat saya bosan. Saya bahkan antusias bertanya dan sharing atau melontarkan pendapat juga pertanyaan.

Terus terang, saya heran kenapa saya begitu antusias, bergairah, dan semangat. Saya juga heran kenapa momennya juga pas. Retret berlangsung di kala disposisi batin saya sedang kacau, galau dan hidup spiritual saya nggak genah alias sembarangan.

Tentu saja pasnya waktu ini bukan karena saya janjian dengan Romo Sardi atau minta tolong Pak Winoto yang berkontak dengan Romo Sardi sehingga pas. Jadi, saya tidak tahu siapa yang membuat pas momen ini sehingga ada kesempatan untuk menata kembali disposisi batin dan hidup spiritual yang sudah nglokro. “Mumpung masih persiapan Paskah, batinku.” Roh Kudus pastinya yang bekerja di balik semua ini.

(more…)

Read more
Berbekal Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian”, Romo LA Sardi SJ Bimbing Retret Pengolahan Diri Sesawi
Agenda Kegiatan
Mathias Hariyadi
March 26, 2018
0

AWALNYA bermula dari dua kisah berbeda.

Pertengahan Juli 2017 telah terbit buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian (Yayasan Sesawi, 2017) karya Pater James Martin SJ. Buku ini menjadi best seller 2010 menurut koran beken The New York Times – tahun terbit edisi awal buku ini menurut edisi aslinya dalam bahasa Inggris.

Baru di tahun 2017, edisi bahasa  Indonesia dizinkan terbit oleh Pater James Martin SJ dan HarperCollins Publishers di New York setelah 10 tahun terbit edisi aslinya. Selama tiga tahun, sejumlah mantan Jesuit Indonesia  berjibaku menyiapkan produk edisi bahasa Indonesianya ini hingga akhirnya di pertengahan Juli 2017 edisi buku berbahasa Indonesia ini siap dirilis publik.

Itu baru kisah yang pertama.

Kisah kedua adalah frekuensi pertemuan yang sering terjadi antara Winoto Doeriat –doktor manajemen alumnus Harvard University di AS plus mantan Jesuit—dengan Romo Leo Agung Sardi SJ di Kolese St. Ignatius (Kolsani), Yogyakarta.  Dari seringnya bertemu muka dengan pastor Jesuit ahli Spiritualitas Ignatian (baca: Spiritualitas Yesuit) inilah, muncul gagasan tentang perlunya para mantan Jesuit Indonesia yang tergabung dalam tiga ‘lembaga’ berbeda (Yayasan Sesawi, Paguyuban Sesawi, dan Sesawi.Net) bisa mencecap kembali kekayaaan warisan tradisi Spiritualitas Yesuit.

Dari situlah lalu muncul program acara Retret Bimbingan Pengolahan Diri bersama Romo Leo Agung Sardi SJ untuk para mantan Jesuit Indonesia yang berkegiatan di tiga ‘organ’ besutan para mantan SJ Indonesia ini. Mereka ini sebenarnya orang-orang yang sama, namun dengan fokus perhatian berbeda-beda sesuai dengan kapasitas setiap penggiatnya dan bidang layanan yang mereka lakukan.

Singkat kata, sejak Juli 2017 telah dipersiapkan conditioning-nya baik oleh Romo LA Sardi SJ dan Winoto Doeriat (Ketua Pembina Yayasan Sesawi), maka akhirnya program Retret Bimbingan Pengolahan Diri bagi para anggota Sesawi ini berhasil dilaksanakan di Rumah Doa St. Maria Guadalupe di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, 23-25 Maret 2018.

Jangan sampai ketularan ‘jebling’

Di pengantarnya saat membuka Retret Pengembangan Diri Sesawi berbekal buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian (Yayasan Sesawi: James Martin, 2017), Romo Leo Sardi SJ memberi ilustrasi menarik. Doktor bidang Spiritualitas Yesuit ini bicara  tentang bagaimana ‘potret’ alam pikir Nostri (sebutan khas untuk para Jesuit oleh Jesuit) ketika memandang mereka yang sudah keluar meninggalkan Ordo Serikat Jesus (SJ) dan kemudian merintis ‘jalan hidup’ baru sebagai awam yang mantan Jesuit.

Mengutip ‘alam pikir’ para Jesuit tempo doeloe, demikian kata Romo LA Sardi, setiap orang yang sudah keluar meninggalkan SJ sebaiknya jangan lagi disapa, diajak bergaul akrab, dan kenal lagi. “”Nanti, kalian bisa kena ketularan ‘virus’ sama yakni keinginan jebling meninggalkan Serikat Jesus,” demikian kata Romo Sardi SJ mengutip omongan pastor SJ asal Jerman yang sudah meninggal dunia.

Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi bersama Romo Leo Agung Sardi SJ. (Mathias Hariyadi)

Alam pikir kuno dan sekarang

Tentu saja tentang paparan ilustrasi di atas itu harus diberi catatan penting.

Komentar yang dikutip itu bukan melulu ‘pendapat pribadi’ pastor Jesuit yang telah meninggal dunia. Melainkan, cara pikir  itu seakan sudah menjadi semacam ‘pendapat umum’ di kalangan Nostri bahwa mereka yang sudah keluar dari SJ sudah bukan lagi menjadi bagian “Inter Nos” (Antar Kita). Karena itu, sudah tidak relevan lagi bergaul akrab dan berkenalan dengan para mantan SJ tersebut.

Namun, itu dulu. Sekarang ini, ‘alam pikir’ kuno itu sudah mulai ditinggalkan.

Dalam kunjungannya ke Indonesia dan sempat bertemu dengan Winoto Doeriat di Universitas Sanata Dharma awal Juli 2017 lalu, Superior General SJ Pater Arturo Sosa SJ dengan amat jelas dan tegas kembali menekankan pentingnya setiap Jesuit merangkul kaum awam untuk diajak berkolaborasi.

Tandatangan Pater Jenderal Jesuit di 10 Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” Terbitan Perdana (3)

Pewarisan nilai Spiritualitas Ignatian

Gagasan tentang kolaborasi SJ dan kaum awam itu dikatakan oleh Pater Jenderal SJ di Yogyakarta.  Sebagai pakar manajemen, Winoto Doeriat langsung menyambar ‘ide besar’ itu untuk menggandeng SJ Provinsi Indonesia agar bersedia mengajak Sesawi (Sesama Sahabat Warga Sahabat Ignatian; bukan biji sesawi) untuk sebuah program ‘pewarisan nilai’.

Dan program pewarisan nilai itu sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh Yayasan Sesawi dengan terbitnya buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian karya Paters James Martin SJ.

Yang ingin diwariskan tentu saja adalah tradisi exercitia spiritualita atau program-program latihan-latihan rohani.

Buku James Martin SJ itu bicara tentang ‘jatidiri’ identitas Jesuit dari perspektif spiritualitasnya –semacam ‘roh’ utama yang menjiwai dan menggerakkan para Jesuit sehingga masing-masing bisa ‘menjadi seperti itu’ dan berbeda dengan para imam dari tarekat religius lain dan para imam diosesan (praja).

Program atau kegiatan yang sifatnya kognitif akan pengenalan ‘jatidiri’ akan alam pikir (baca: Spiritualitas Ignatian) itu sekarang ini sudah semakin menjamur di banyak kota.  Bersama pastor Jesuit di beberapa kota itu, ada begitu banyak awam Katolik yang merasa tertarik akan ‘jatidiri’ Jesuit dengan Spiritualitas Ignatian-nya dan kemudian menggelar beberapa kursus tentang identitas Jesuit ini.

Merintis kolaborasi

Program Retret Bimbingan Tiga Hari –karenanya disebut Triduum (artinya tiga hari)—bersama Romo Leo Agung Sardi SJ ini juga dirancang sebagai embrio untuk menggerakkan  Sesawi ikut berpartisipasi dalam program-program pembinaan kaum awam tentang ‘jatidiri’ Jesuit.

Tentu, Sesawi harus berterima kasih kepada Ordo Serikat Jesus Provinsi Indonesia c.q. Pater Provinsial Petrus Sunu Hardiyanto SJ yang secara khusus menugaskan Romo Leo Agung Sardi SJ ini menginisiasi program kolaborasi rintisan bersama SJ-Sesawi.

Romo Sardi SJ sudah mengawali langkah pertamanya  dengan sukacita.

Pastor asal Paroki Klepu DIY telah memberi pengantar yang sangat baik di buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian.  Itu dia lakukan guna mengeksekusi  tugas khusus yang diberikan kepadanya oleh Romo Provinsial SJ.

Retret Bimbinan Pengolahan Pribadi bersama Sesawi  yang dia besut di Rumah Doa St. Maria Guadalupe di Duren Sawit, 23-25 Maret 2018 adalah langkah keduanya.  Langkah kedua rintisan ini  dilakukan guna menggerakan program  kegiatan bernama ‘kolaborasi’ SJ dan Sesawi ini.

KALAU, misalnya, harus merintis karya awal yang sifatnya berkolaborasi dengan kaum awam Katolik di Indonesia, lalu dengan siapa Ordo Serikat Yesus Provinsi Indonesia (Provindo) ini mesti mengawali langkah pertama untuk mengisi program bersama kolaboratif itu?

Itu adalah pertanyaan pancingan Romo Leo Agung Sardi SJ sebelum memulai Retret Bimbingan Pengolahan Diri Sesawi yang dia ampu di Rumah Doa St. Maria Guadalupe, Jakarta, 23-25 Maret 2018 ini.

Yang mau dikatakan sebenarnya adalah kisah latar belakang historis mengapa dirinya sampai melakukan program retret bimbingan selama tiga hari (triduum) untuk para anggota Sesawi itu.

Berbekal Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian”, Romo LA Sardi SJ Bimbing Retret Pengolahan Diri Sesawi (1)

Demikian ini kisahnya.

Romo Leo Agung Sardi SJ, alumnus Seminari Mertoyudan angkatan tahun masuk 1982 dan mantan magister novis calon SJ di Girisonta, mengaku mengenal pertama kali istilah ‘Sesawi’ sejak tahun 2000-an, ketika perkumpulan Sahabat Sesama Warga Ignatian ini (dan bukan ‘biji sesawi’ atau ‘benih sesawi’) mulai pertama kali muncul di tahun-tahun pertamanya.

Simon Sugito membuka makan malam jelang program bina lanjut untuk Sesawi berbekal buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” bersama Romo Leo Agung Sardi SJ. (Mathias Hariyadi)

Romo Ignatius Haryoto SJ

Sesawi muncul sebagai respon atas desakan alm. Romo Ignatius Haryoto SJ–mantan magister novis SJ sangat kharismatis—yang menghendaki para alumni GS (Girisonta) itu sebaiknya masih saling berkomunikasi dan saling meneguhkan sesuai ‘karya’ mereka masing-masing sebagai awam Katolik.

Irwan Setiabudi, alumnus GS tahun 1981- merintis berdirinya Sesawi dengan awalnya kegiatan kumpul-kumpul bersama teman-teman angkatannya dan kemudian mulai ‘melembaga’ setelah beberapa kali ‘embrio Sesawi’ ini bertemu dengan almarhum Romo Ignatius Haryoto SJ.

Mengapa almarhum Romo Ignatius Haryoto SJ sedemikian ‘membekas’ di hati banyak alumni Novisiat SJ Girisonta?

Tentu jawabannya akan beragam. Namun, para mantan SJ hasil didikan almarhum biasanya akan mengatakan beberapa hal yang sama: model didikannya sangat ‘spartan’ (rigid, tegas, rigorous), disiplin diri ketat, dan tidak segan-segan menjadikan para novis itu mampu bekerja fisik ‘secara rodi’ di lapangan.

Itu antara lain sebagai berikut:

  • Para novis SJ waktu itu harus bisa mengikir batu besar dan melukis permukaan batu dengan aneka gambar ikon SJ.
  • Para novis harus bisa meratakan lapangan sepak bola hanya bermodalkan cangkul (bukan buldozer dan aneka alat berat lainnya).
  • Para novis harus bisa mengangkut batu-batu besar dari dataran rendah hanya dengan kekuatan tenaga manusia.
  • Belum layak disebut ‘novis SJ’ sejati dan ‘lulus’ pendidikan calon Jesuit, kalau belum berhasil naik Gunung Ungaran, berhasil tiba sampai di puncak gunung, dan bisa berhasil tiba selamat dan sehat ke Novisiat SJ.
  • Dan masih banyak lagi.

“Saudara terdekat”

Sesawi bagi Romo Leo Agung Sardi SJ layak disebut sebagai teman dan saudara terdekat para Jesuit Provindo.

Bukan karena sama-sama ‘orang Indonesia’, melainkan karena para anggota Sesawi itu –sama seperti para Jesuit lainnya—juga pernah mengalami tahapan formatio dengan protokol dan program pembinaan yang sama. Entah itu di Novisiat SJ Girisonta, Kolese Hermanum – STF Driyarkara Jakarta, dan Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta.

Dan yang paling fundamental, demikian kata Romo LA Sardi SJ, semua anggota Sesawi dan SJ itu sama-sama pernah mengalami Retret Agung Latihan Rohani 30 hari di Novisiat SJ Girisonta.

“Itulah yang menyatukan kita sebagai ‘saudara’ dan teman dekat,” ungkap doktor ahli Spiritualitas Ignatian (Spiritualitas Yesuit) ini di awal Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi di Jakarta, 23-25 Maret 2018.

Karena itu, Romo Leo Agung Sardi SJ lalu menyediakan diri waktu khusus selama tiga hari di awal Pekan Suci 2018 untuk Sesawi.

Untuk Nostri

Setelah selesai tugas sebagai magister novis calon SJ di Girisonta, Romo  Leo Agung Sardi SJ ditugasi belajar Spiritualitas Yesuit oleh Provinsial SJ waktu itu –Romo Rio Mursanto SJ—di Spanyol dan akhirnya lulus dengan predikat doktor di Negeri Matador ini. Usai studi, pastor asal Paroki Klepu DIY ini dibenum (ditugaskan) di Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta sebagai spiritualis dan sekaligus promotor Spiritualitas Ignatian bagi para Jesuit Provinsi Indonesia melalui program retret bimbingan untuk para Jesuit Indonesia.

Ia mengaku ‘tutup mata’ dan langsung mengiyakan setiap kali ditugaskan Provindo untuk program-program formatio untuk kalangan internal. Dan karena waktunya sudah sangat tersita untuk menyiapkan materi program-program bimbingan dan pembinaan untuk Nostri ini, Romo Sardi merasa ‘tidak terkutik’ lagi untuk menyediakan waktu lagi guna keperluan yang sama untuk para religius lain.

Ketika ajakan ditawarkan oleh Winoto Doeriat akan program pembinaan bagi Sesawi, Romo Leo Sardi mengaku tak bisa menolaknya. Apalagi secara khusus Provinsial SJ menugaskannya untuk merespon ajakan itu.

Nah, program Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi berbekal buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” selama tiga hari ini terjadi dalam konteks menciptakan kondisi untuk kerja kolaborasi antara SJ dan kaum awam Katolik yang kebetulan mantan SJ.

Read more
Ultah Yoseph Umarhadi di Pesta Santo Yoseph
Agenda Kegiatan
psesawi
March 21, 2018
0

Perayaan ulang tahun yang ke-60 menjadi saat tepat untuk seseorang merefleksikan diri sejauh mana telah melangkah dan berbuat bagi orang-orang sekeliling dan bagaimana pribadi-pribadi yang mengitarinya membentuk dirinya.

“Saya berterima kasih pada setiap orang yang hadir di sini.Karena Anda semua saya seperti sekarang ini,”ujar Yoseph Umarhadi, yang merayakan ulang tahunnya di Gedung Yohanes, Paroki Yohanes Penginjil, Blok B, Jakarta Selatan, Minggu, 18 Maret 2018.

Di hadapan para tamu yang sebagian besar adalah kawan, kerabat dan keluarga, pria yang memiliki nama kecil Bambang Tri Joko Santoso dan lahir 14 Maret 1958 di Klaten ini bercerita bahwa dia sangat beruntung ketika mengubah namanya menjadi Yoseph.

Kala itu saat dirinya sedang menimba ilmu di Girisonta. Setiap frater harus mengganti namanya sebagai tanda pertobatan. Tri Joko lalu mengganti namanya dengan Yoseph Umarhadi.


Santo Yoseph yang dirayakan pada hari Senin, 19 Maret menjadi sosok yang diidolakan Bapa Suci Fransiskus. Dengan patungnya yang terkenal sedang tidur, melambangkan sikap pasrah dan iman yang teguh pada Tuhan. “Banyak pengalaman yang membuktikan bahwa Tuhan sudah memberi kami anugerah luar biasa lewat pertolongan Santo Yoseph,”ujar Yoseph.

Saat pikirannya berat karena banyak masalah, Yoseph meniru santo pelindungnya dengan cara tidur. “Setelah itu segar, pikiran ringan. Sedikit demi sedikit masalah pun selesai,”ujar Yoseph.

Karena itu tak heran bila perayaan ekaristi yang dipimpin Romo Ponco Sukamat (rekan setianya saat di Serikat Yesus) dan Romo Thomas Aquinas Murdjanto Rochadi Widagdo, Pr (kakak kelas sekaligus pembimbing rohaninya) diselenggarakan pada malam menjelang pesta Santo Yoseph yang jatuh pada Senin, 19 Maret.

Sebagian anggota sesawi ikut merayakannya. Para tamu juga merasakan kegembiraannya. Usai misa hidangan bakso, tekwan, wedang ronde dan makan malam ala bancaan beralas daun pisang pun disajikan. Semua senang, bahagia dan gembira. “Semoga kita semua menyebarluaskan pembaktian devosi kepada Santo Yoseph kepada rekan-rekan sekeliling kita,”ujar Yoseph.

Read more
Hari Biasa Pekan Prapaskah II, Diberkatilah yang Mengandalkan Tuhan
Agenda Kegiatan
Sugeng Rahardjo
March 1, 2018
0

Liturgia Verbi (B-II)
Hari Biasa Pekan Prapaskah II

Kamis, 1 Maret 2018

Ujud Misi/Evangelisasi – Pembinaan diri dalam penegasan spiritual.
Semoga gereja menghargai dan mengusahakan pembinaan diri yang dijalankan atas dasar penegasan spiritual, baik secara perseorangan maupuan kelompok.

Ujud Gereja Indonesia – Aksi Puasa Pembangunan.
Semoga Aksi Puasa Pembangunan tak hanya dijalankan sebagai aksi formal dan administratif, tetapi sebagai perwujudan aksi pertobatan yang konkret dalam berbagi dengan sesama, terutama mereka yang miskin dan membutuhkan.

Bacaan Pertama
Yer 17:5-10

“Terkutuklah yang mengandalkan manusia.
Diberkatilah yang mengandalkan Tuhan.”

Pembacaan dari kitab Yeremia:

Beginilah firman Tuhan,
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia,
yang mengandalkan kekuatannya sendiri,
dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!
Ia seperti semak bulus di padang belantara,
ia tidak akan mengalami datangnya hari baik;
ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun,
di padang asin yang tidak berpenduduk.
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan,
yang menaruh harapannya pada Tuhan!
Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air,
yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air,
dan yang tidak mengalami datangnya panas terik;
ia seperti pohon yang daunnya tetap hijau,
yang tidak kuatir dalam tahun kering,
dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Betapa liciknya hati,
lebih licik daripada segala sesuatu!
Hati yang sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati dan menguji batin,
untuk memberi balasan kepada setiap orang
setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan
Mzm 1:1-2.3.4.6,R:40:5a

Refren: Berbahagialah orang
yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan.

*Berbahagialah orang
yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;
tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,
dan siang malam merenungkannya.

*Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buah pada musimnya,
dan tak pernah layu;
apa saja yang diperbuatnya berhasil.

*Bukan demikianlah orang-orang fasik:
mereka seperti sekam yang ditiup angin.
Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil
Luk 8:15

Berbahagialah orang,
yang setelah mendengar firman Tuhan,
menyimpannya dalam hati yang baik
dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Bacaan Injil
Luk 16:19-31

“Engkau telah menerima segala yang baik,
sedangkan Lazarus segala yang buruk.
Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
“Ada seorang kaya
yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus,
dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus,
badannya penuh dengan borok.
Ia berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
dan ingin menghilangkan laparnya
dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.
Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

Kemudian matilah orang miskin itu,
lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur.
Sementara menderita sengsara di alam maut,
ia memandang ke atas,
dan dari jauh dilihatnya Abraham,
dengan Lazarus duduk di pangkuannya.
Lalu ia berseru, “Bapa Abraham, kasihanilah aku.
Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air
dan menyejukkan lidahku,
sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini!”
Tetapi Abraham berkata, “Anakku, ingatlah!
Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu,
sedangkan Lazarus segala yang buruk.
Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
Selain dari pada itu di antara kami dan engkau
terbentang jurang yang tak terseberangi,
sehingga mereka yang mau pergi dari sini kepadamu
ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami
tidak dapat menyeberang!”
Kata orang itu, ‘Kalau demikian, aku minta kepadamu Bapa,
supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
sebab masih ada lima orang saudaraku,
supaya ia memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh,
agar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan itu.’
Tetapi kata Abraham,
‘Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi;
baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.’
Jawab orang itu, ‘Tidak, Bapa Abraham!
Tetapi jika ada seorang
yang datang dari antara orang mati kepada mereka,
mereka akan bertobat.’
Kata Abraham kepadanya,
‘Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi,
mereka tidak juga akan mau diyakinkan,
sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan Injil
Kita lanjut lagi, merenungkan tentang firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Yeremia pada Bacaan Pertama hari ini.
Agak terkejut juga saya ketika membaca, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu!”
Setahu saya, hati itu sumbernya perasaan, semestinya bersifat netral.
Yang dapat berperilaku licik adalah pikiran, adanya di kepala, bukan di hati.
Seringkali orang malah mengatakan “hati kecil-nya mengatakan lain,” yang bertentangan dengan perbuatan yang salah.
Hati kecil atau hati nurani adalah perasaan yang murni, yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam.
Bagaimana ia bisa menjadi licik, bahkan lebih licik dari segala sesuatu?

Rupanya yang dimaksud adalah “hati yang sudah membatu”, sudah menjadi bebal, hati yang bukan lagi sekedar membeku tapi membatu.
Seharusnya hati bisa mengendalikan pikiran, menjaganya tetap berada pada akal sehat, tetapi karena telah membatu, keras dan bebal, justru hati malah menginisiasi kelicikan.
Celakalah orang yang hatinya mengeras menjadi batu.

Lalu bagaimana ceritanya hati bisa mengeras menjadi batu?
Iya, karena hatinya menjauh dari Tuhan!
Ia tidak lagi mengandalkan Tuhan, tidak lagi menaruh harapan pada Tuhan.
Ia malah mengandalkan kekuatannya sendiri, atau mengandalkan manusia, yang bukan Tuhan.

Menjauhkan hati dari Tuhan adalah tindakan gegabah yang hanya akan membawa kita kepada penderitaan, bukan karena Tuhan akan meninggalkan kita melainkan karena kitalah yang menjauh dari-Nya.
Jika hati telah membatu, dengan apalagi akan dicarikan?
Kalau masih se batas membeku, masih ada peluang untuk dicairkan, tetapi kalau sudah mengeras menjadi batu?
Beginilah yang disampaikan oleh Tuhan kepada Yeremia,
“Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”
Oleh karenanya, kita mesti rajin-rajin memeriksa hati kita, menguji batin kita, agar kita waspada kalau-kalau ia mulai mengental, lalu membeku, dan kalau dibiarkan, maka ia akan membatu.
Berbuat baik itu seperti abrasi di pantai, sekeras apa pun batu karang, lambat laun akan luluh juga.
Berbuat baik itu seperti pohon, yang tak pernah berhenti menghasilkan buah.
Dan berbuat baik kita lakukan, semata-mata karena kita menaruh harapan pada Tuhan dan mengandalkan-Nya.

Read more
Arisan Sesawi di Rumah Pak Frans Wiyono
Agenda Kegiatan
psesawi
March 1, 2018
0

Acara arisan para anggota Paguyuban Sesawi kembali dihelat di rumah Fransiskus Wiyono yang juga termasuk sesepuh pada Minggu, 25 Februari 2018. Berada di wilayah Bekasi, tak jauh dari Jalan Raya Hankam, puluhan bapak dan ibu berkumpul.

Sajian rawon dan siomay serta beragam makanan serta jajanan pasar juga minuman memenuhi meja tamu dan ruang makan. Para ibu yang kebetulan duduk di ruangan santai asyik berarisan sekaligus karaoke-an.

Sementara para bapak ngobrol dengan beragam tema sesuai minatnya masing-masing. Tak lama setalah makan siang selesai kurang lebih setengah tiga, para tamu pamit sambil membawa sangu beragam sajian camilan makanan yang disediakan.

Terima kasih Bapak dan Ibu Frans Wiyono atas hangatnya sambutan.

Read more
Hari Sabtu Sesudah Rabu Abu, Pesta Ketujuh Saudara Suci
Agenda Kegiatan
Sugeng Rahardjo
February 17, 2018
0

Liturgia Verbi (B-II)
Hari Sabtu Sesudah Rabu Abu

Sabtu, 17 Februari 2018

PF Ketujuh Saudara Suci, Pendiri Ordo Hamba-Hamba Maria

Bacaan Pertama
Yes 58:9b-14

“Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar
apa yang kauinginkan sendiri,
maka terangmu akan terbit dalam gelap.”

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Inilah firman Allah,
“Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu,
dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah;
apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar
apa yang kauinginkan sendiri
dan memuaskan hati orang yang tertindas,
maka terangmu akan terbit dalam gelap,
dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
Tuhan akan menuntun engkau senantiasa
dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering,
dan akan membaharui kekuatanmu.
Engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik
dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad,
dan akan memperbaiki dasar
yang diletakkan oleh banyak keturunan.
Engkau akan disebutkan
“Yang memperbaiki tembok yang tembus”u
“Yang membetulkan jalan”
supaya tempat itu dapat dihuni.
Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat
dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku;
apabila engkau menyebutkan hari Sabat “Hari Kenikmatan”,
dan hari kudus Tuhan “Hari Yang Mulia;”
apabila engkau menghormatinya
dengan tidak menjalankan segala acaramu
dan dengan tidak mengurus urusanmu sendiri,
atau berkata omong kosong,
maka engkau akan bersenang-senang, karena Tuhan.
Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi
dengan kendaraan kemenangan;
Aku akan memberi makan engkau
dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu,
sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan
Mzm 86:1-2.3-4.5-6,R:11a

Refren: Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan,
supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.

*Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, jawablah aku,
sebab sengsara dan miskin aku.
Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi,
selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.

*Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku,
sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.
Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita,
sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.

*Sebab, ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni,
kasih setia-Mu berlimpah bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan,
dan perhatikanlah suara permohonanku.

Bait Pengantar Injil
Yeh 33:11

Aku tidak berkenan akan kematian orang fasik,
melainkan akan pertobatannya supaya ia hidup.

Bacaan Injil
Luk 5:27-32

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa
Yesus melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, 7
sedang duduk di rumah cukai.
Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!”
Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu,
lalu mengikut Dia.
Lalu Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya.
Sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut
kepada murid-murid Yesus,
“Mengapa kamu makan dan minum
bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Lalu jawab Yesus kepada mereka,
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,
tetapi orang sakit!
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan Injil
Bacaan Pertama dari Kitab Yesaya hari ini cukup panjang, tetapi pada intinya menuliskan tentang relasi sebab-akibat antara perbuatan kita dan apa yang diperbuat oleh Tuhan kepada kita.
Jika kita berbuat kebaikan, membantu orang yang lapar, memuaskan hati orang yang tertindas, dan sebagainya, maka Tuhan yang sudah sejak semula baik kepada kita, akan menambahkan lagi kebaikan-Nya, menerbitkan terang pada diri kita, menuntun hidup kita, memberikan penghiburan, memperbaharui kekuatan kita dan berbagai kebaikan lainnya.

Di saat kita berpaling dari-Nya, berbuat yang tidak selaras dengan kehendak-Nya, Tuhan tetap baik kepada kita, takkan pernah ditinggalkan-Nya.
Terlebih lagi kalau kita justru mendekatkan diri kepada-Nya, maka kebaikan-Nya akan berlipat-lipat.
Kebaikan yang merupakan rahmat dari-Nya itu, bukan hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri, tetapi juga dapat memancar dari diri kita kepada orang-orang di sekitar kita.
“Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu,” begitulah yang ditulis dalam Kitab Yesaya.

Pada Bacaan Injil, Yesus menggenapi dan sekaligus menegaskan akan hal ini, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita, akan selalu membuka kesempatan selebar-lebar bagi kita untuk menempuh proses pertobatan.
Jadi, sekarang ini Tuhan masih menantikan jawaban dari kita, apakah kita mau memulihkan relasi kita dengan-Nya, yakni dengan cara meninggalkan kemunafikan dan perbuatan lain yang tidak diperkenankan oleh-Nya, maka berkat-berkat itu akan dilimpahkan-Nya kepada kita.

Read more
Hari Jumat Sesudah Rabu Abu
Agenda Kegiatan
Sugeng Rahardjo
February 17, 2018
0

Liturgia Verbi (B-II)
Hari Jumat Sesudah Rabu Abu

Jumat, 16 Februari 2018

Bacaan Pertama
Yes 58:1-9a

“Berpuasa, yang kukehendaki, ialah
engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.”

Pembacaan dari Kitab Yesaya:

Beginilah firman Tuhan Allah,
‘Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan!
Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala,
beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka,
dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!
Memang setiap hari mereka mencari Aku
dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku.
Seperti bangsa yang berlaku yang benar
dan tidak meninggalkan hukum Allahnya
mereka menanyai Aku tentang hukum-hukum yang benar.
Mereka suka mendekat menghadap Allah, dan bertanya,
“Kami berpuasa, mengapa Engkau tidak memperhatikannya juga?
Kami merendahkan diri,
mengapa Engkau tidak mengindahkannya juga?”
Camkanlah!
Pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu,
dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.
Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi
serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena.
Dengan cara berpuasa seperti ini
suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

Inikah puasa yang Kukehendaki:
mengadakan hari merendahkan diri?
menundukkan kepala seperti gelagah?
dan membentangkan kain karung serta abu sebagai lapik tidur?
Itukah yang kausebutkan berpuasa,
mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan?
Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah:
Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman
dan melepaskan tali-tali kuk;
membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar
dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang,
supaya engkau memberi dia pakaian,
dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar
dan lukamu akan pulih dengan segera.
Kebenaran menjadi barisan depanmu
dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.
Pada waktu itulah
engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab,
engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan
Mzm 51:3-4.5-6a.18-19,R:19a

Refren: Hati yang remuk redam
tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

*Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu,
menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,
dan tahirkanlah aku dari dosaku!

*Sebab aku sadar akan pelanggaranku,
dosaku selalu terbayang di hadapanku
Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa,
yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

*Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan;
kalaupun kupersembahkan kurban bakaran,
Engkau tidak menyukainya.
Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur.
Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bait Pengantar Injil
Am 5:14

Carilah yang baik dan jangan yang jahat,
supaya kamu hidup,
dan Allah akan menyertai kamu.

Bacaan Injil
Mat 9:14-15

“Mempelai itu akan diambil dari mereka,
dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata,
“Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa,
tetapi murid-murid-Mu tidak?”
Jawab Yesus kepada mereka,
“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita
selama mempelai itu bersama mereka?
Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka,
dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan Injil
Setiap tahun, setiap memasuki masa Prapaskah, selalu saja orang-orang bertanya kepada saya, bagaimana sebenarnya aturan puasa dan pantang menurut gereja Katolik?
Malah kemarin ada yang bertanya, “Apa betul sekarang diberlakukan ketentuan makan satu kali saja? Bukan satu kali makan kenyang dan dua kali makan tak sampai kenyang?”
Macam-macam pertanyaan orang, misalnya, “Telur itu daging atau bukan? Boleh disantap saat berpantang? Bagaimana dengan makanan vegitarian yang persis seperti daging itu, boleh?”
Ya ampun, kenapa kita jadi sibuk ngurusi hal-hal yang remeh-temeh seperti ini sementara substansi dari berpuasa dan berpantang sendiri malah diabaikan.

Barangkali ini sebabnya Yesus tidak mau terjebak oleh urusan yang beginian.
Ketika orang-orang mempertanyakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” maka Yesus pun menjawab, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.
Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” [bdk Mrk 2:18-22]

Apakah ini artinya Yesus tidak berpuasa?
Siapa bilang?
Ketika pencobaan oleh iblis di padang gurun, Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam.
Yesus menolak orang berpuasa secara munafik, pamer-pamer kalau lagi berpuasa.
Kalau kita berpuasa, janganlah dilihat orang kalau kita sedang berpuasa.

Kitab Yesaya pada Bacaan Pertama hari ini menarik untuk kita cermati.
Percuma saja berpuasa, sekali pun dengan mematuhi setaat-taatnya aturan berpuasa dan berpantang, tetapi kalau perbuatan kita masih saja egois mengurusi urusan sendiri saja, apalagi berbantahan dan berkelahi, atau berbuat semena-mena kepada orang lain.
Dengan cara berpuasa seperti ini, suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

Jika hendak didengar, jika ingin suara kita sampai ke hadirat Allah Bapa di Surga, bertobatlah dan mohonlah pengampunan dari-Nya, serta berbuat baiklah kepada orang lain.
“Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”
Nah kalau seperti ini yang kita jalani, janganlah 40 hari, melainkan 365 hari dalam se tahun, maka suara kita akan seperti lagu merdu bagi penghuni Surga.

Read more
Asyiknya Belajar Mengisi Konten Sesawi.Org
Agenda Kegiatan
psesawi
February 15, 2018
0
Andreas Hendra sedang menjelaskan tentang web baru Paguyuban Sesawi / Foto : Wulan

Setelah enam tahun ditutup, website Paguyuban Sesawi dengan ekstension org akhirnya dihidupkan lagi. Andreas Hendra Santosa yang mengomandani projek penataan dan pengumpulan database anggota paguyuban dibantu Abdi Susanto membangun kembali website internal.

“Web ini nanti yang dipakai untuk menyimpan data profile para anggota paguyuban. Hanya yang mendaftar saja yang bias melihatnya. Tidak semua orang bias melihatnya,”ujar Hendra di Bekasi, 4 Februari 2018.

Supaya konten terisi, beberapa anggota seperti Wulan, Abdi, Hendra, Lisa, Damar, Simon Sugito, Bayu, Wira berkumpul di rumah Ketua Paguyuban Sesawi Dio Bowo. Meskipun banyak hal dibahas di tempat ini, satu hal yang paling pokok adalah soal database dan latihan mengisi website beralamat http://sesawi.org.

“Wah, luar biasa,”ujar Ina istri Dio Bowo yang tahu bahwa website ini bisa dimanfaatkan untuk media sosial ke depannya. Yang lain juga antusias untuk mencoba mengisi konten-konten percobaan terutama lewat ponsel yang mereka miliki.

“Jadi, teman-teman bisa menggunakan telepon selulernya masing-masing saat ingin mengisi konten web kita,”ujar Abdi.

Kumpul-kumpul ini terasa gayeng sekali dengan sajian barbeque yang disajikan keluarga tuan rumah Mas Dio dan Mbak Ina serta kejutan ulang tahun untuk Mbak Wulan serta Mas Wira.

Read more
Kamis Sesudah Rabu Abu
Agenda Kegiatan
Sugeng Rahardjo
February 15, 2018
0

Liturgia Verbi (B-II)
Hari Kamis Sesudah Rabu Abu

Kamis, 15 Februari 2018

Bacaan Pertama
UL 30:15-20

“Pada hari ini aku menghadapkan kepadamu: berkat dan kutuk.”

Pembacaan dari Kitab Ulangan:

Di padang gurun di seberang Sungai Yordan
Musa berkata kepada bangsanya,
“Ingatlah, pada hari ini aku menghadapkan kepadamu
kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan.
Karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu
untuk mengasihi Tuhan, Allahmu,
dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya
dan berpegang pada perintah, ketetapan serta peraturan-Nya.
Dengan demikian engkau hidup dan bertambah banyak
dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu,
di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya.

Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar,
apalagi jika engkau mau disesatkan
untuk sujud menyembah kepada allah lain
dan beribadah kepadanya,
maka pada hari ini aku memberitahukan kepadamu
bahwa pastilah kamu akan binasa,
dan tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi,
menyeberangi sungai Yordan, untuk mendudukinya.

Aku memanggil langit dan bumi
menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini:
Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian,
berkat dan kutuk.
Pilihlah kehidupan, supaya engkau tidak mati,
baik engkau maupun keturunanmu,
yaitu dengan mengasihi Tuhan, Allahmu,
mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya.
Sebab hal itu berarti hidup bagimu dan lanjut umurmu
untuk tinggal di tanah
yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu,
yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub,
untuk memberikannya kepada mereka.”

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan
Mzm 1:1-2.3.4.6,R:40:5a

Refren: Berbahagialah orang,
yang menaruh kepercayaan pada Tuhan.

*Berbahagialah orang
yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,
dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;
tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,
dan siang malam merenungkannya.

*Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buah pada musimnya,
dan tak pernah layu;
apa saja yang diperbuatnya berhasil.

*Bukan demikianlah orang-orang fasik:
mereka seperti sekam yang ditiup angin.
Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,
tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bait Pengantar Injil
Mat 4:17

Bertobatlah, sabda Tuhan, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.

Bacaan Injil
Luk 9:22-25

“Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan menyelamatkannya.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya
bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan,
dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Kata-Nya kepada mereka semua,
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya;
tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan menyelamatkannya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia,
tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan Injil
Pesan Nabi Musa pada Kitab Ulangan dari Bacaan Pertama hari ini adalah tentang penegasan sebab-akibat dari Perjanjian Allah dengan umat Israel.
Isinya kita telah faham, jika kita mengasihi Allah, hidup menurut jalan yang telah ditunjukkan-Nya dan patuh kepada perintah dan ketetapan-Nya, maka Allah akan melimpahkan berkat-Nya atas kita.
Sebaliknya, jika kita tidak mau mendengarkan-Nya, apalagi sampai tersesat, menyembah allah lain dan beribadah kepada allah lain itu, maka hasilnya adalah kutuk.
Berkat adalah karunia Allah yang membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, sedangkan kutuk adalah pernyataan Allah yang dapat mengakibatkan kesengsaraan atau bencana menimpa kita.
Sederhana saja, jika mau berkat, iya tunduklah kepada-Nya.
Sebaliknya, jika mau menuruti hasrat dan nafsu diri sendiri, bersiaplah menerima kutuk.

Bagaimana mengubah kutuk menjadi berkat?
Mungkinkah itu?
Kita tahu kalau Allah Bapa tidak bisa kita kelabui, tak bisa disiasati.
Tak ada jalan untuk mengubah kutuk menjadi berkat kecuali melalui jalan pertobatan, mengakui dosa yang telah dibuat, menyesalinya, lalu memohon pengampunan dari-Nya.
Melalui jalan pertobatan ini, jika kutuk belum dijatuhkan maka akan dibatalkan, tetapi jika telah ditimpakan maka akan dilakukan pemulihan.

Lalu, bagaimana selanjutnya?
Iya sederhana saja, tetaplah mengundang berkat Allah, jangan lagi “berselingkuh” dengan kuasa kegelapan, maka tak ada lagi kutuk di sepanjang hidup kita.
Masa Prapaskah adalah momentum yang tepat untuk mewujudkan keinginan dan harapan kita itu.

Read more
Rapat Tahunan Yayasan Sesawi, Ramai
Agenda Kegiatan
Retno Wulandari
February 12, 2018
0

Rapat Tahunan Yayasan Sesawi kali ini tidak hanya dihadiri para pengurus, pengawas dan pembina Yayasan melainkan juga para pengamat dan peninjau yang pada dasarnya juga pengurus anggota Paguyuban Sesawi serta organ Web Sesawi.Net.

“Yayasan ini meskipun lahirnya dari paguyuban tapi bukanlah milik paguyuban,”ujar Anastasius Wahyuhadi salah satu sesepuh paguyuban yang juga bertindak sebagai anggota Pembina Yayasan di Jalan Gaharu III no. 7, Minggu (11/2/2018).

Di hadapan para pengurus, pembina, pengawas dan peninjau Ketua Yayasan Markus Sunarto memaparkan apa saja yang telah dilakukan Yayasan Sesawi selama tahun 2017. Kegiatan penerbitan buku sekaligus penggalangan dana untuk seminaris menjadi program nyata di tahun 2017 yang bisa membantu 5 seminaris. “Kita tingkatkan menjadi 10 orang seminaris,”ujar Sunarto.

Setelah laporan keuangan yang belum bisa disahkan saat itu juga, diskusi untuk membicarakan kegiatan 2018 berlangsung semarak. Ada beberapa program antara lain Dukung Panggilan dan penggalangan dana untuk Keuskupan Agats (Asmat) yang masih akan diteruskan hingga tengah Februari.

Sunarto juga memaparkan bahwa ada tawaran dari Serikat Jesus untuk mengurus sekolah Akademi Bahasa Asing. Kemungkinan hal ini akan ditindaklanjuti dengan diskusi dan observasi dahulu.

Juga ada program pelatihan-pelatihan yang bakal dikomandani Simon Sugito, generasi Sesawi muda yang juga passion di bidang pendidikan anak muda.

Winoto Doeriat, sesepuh paguyuban yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan sekaligus tuan rumah kegiatan ini menutup rapat kegiatan dengan optimisme bahwa ke depan Yayasan bakal bisa lebih maju lagi.

Kegiatan lain yang tidak menarik adalah merayakan ulang tahun salah satu anggota Paguyuban Sesawi yang juga Sekretaris Yayasan Estiari istri Wahyu Prihadi. Mbak Esti, demikian ibu satu anak ini biasa dipanggil merasa bersyukur memiliki Sesawi sebagai keluarga besar. Semoga persaudaraan ini makin terus berlanjut sampai anak cucu ya Mbak.

 

Read more
Skip to toolbar