Avatar
Hello Guest!
0
Katolik di Cina Tak Lepas dari Peran Santo Fransiskus Xaverius
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
December 1, 2018
0
Katedral ShangHai/ Foto :Asmi

PERJALANAN ke China beberapa waktu lalu (16 – 25 November 2018) dimana kami sempat bergabung dalam misa bersama dengan umat setempat di Gereja St. Theresia di Guilin (18 Nov) serta mengunjungi Katedral St. Ignatius di Shanghai (24 Nov), membuka babak baru dalam perjalanan wawasan dan iman saya.

Patung Santo Ignatius

Sambil terus berdoa untuk perkembangan Gereja Katolik di Cina, saya bolak balik halaman-halaman buku mengenai sejarah kekatolikan di Cina. Ternyata, saya menemukan satu hal, kita tak akan pernah bisa melepaskan diri dari kepeloporan seorang Imam Jesuit, St. Fransiskus Xaverius (1506 – 1552) yang sebentar lagi kita peringati (3 Des) dan seorang Jesuit lain yang paling berhasil dalam misinya yakni St. Matteo Ricci (1552 – 1610).

Memegang Patung Santo Fransiskus Xaverius

Bayangkan kalau dalam pemberontakan Boxers di China (antara Nov 1899 – Sep 1901) ada sekitar 30 ribu orang Katolik dibunuh ! Boxers yang antiasing, antiimperialis dengan semboyan “Dukung Qing dan Hancurkan Barat”. Protokol Boxer mengakhiri pemberontakan yang keji di tanggal 7 Sep 1901 dan Dinasti Qing sendiri jatuh di tahun 1911.

Saat ini Gereja memiliki 87 Martir yang telah dibeatifikasi. Sebagai bagian dari warga dunia yang Universal, marilah kita berdoa bagi perkembangan umat katolik di sana dan semoga Gereja di sana senantiasa berwajah penuh kedamaian dan selalu mengusahakan kebaikan bagi sesama dan siapa saja di tengah Pemerintahan Komunis yang juga memberikan kesempatan untuk beribadah bagi jemaatnya, meski tetap dalam kontrolnya. 

Guilin

Sempat hari minggu (18 Nov 2019) ke Gereja St. Theresia di Guilin. Gereja di Cina INI unik sekali. Ada gereja bawah tanah, yang afiliasi ke Vatikan tapi tak mau diatur pemerintah dan Gereja afiliasi Vatikan juga tapi pemerintah ikut campur tangan.

Sejak 1949 para missionaris diusir. 1951 Cina memutuskan hubungan dengan Tahta Suci Vatikan. Relasi yang kurang baik selama puluhan tahun dan sangat sulit diperbaiki.
23 September 2018 kemarin, Paus Fransiskus mengakui 7 uskup yang dipilih Pemerintah.

Paus Fransiskus ingin hubungan yang lebih baik dengan Cina, tapi ini agaknya mengecewakan Gereja Bawah Tanah tadi. Semoga ada titik temu yang baik antara Gereja Bawah Tanah dan Gereja-gereja yang diakui Pemerintah.

Asmi, Erni, Ian (keempat dari kiri)

saya melihat anak-anak kecil di gereja, benar-benar melihat masa depan Gereja Cina. Saya benar-benar merasakan sebagai bagian dari Gereja Kristen Katolik Universal. Gereja Universal yang perlu terus menerus didoakan dan diwujudkan dalam karya nyata. Amin

Ingatanku langsung terarah pada St. Fransiskus Xaverius yang menjadi pelopor awal misi di Cina, meski dia hanya sampai pintu di gerbang Cina, wafat di Pulau San Cian. Ingat juga Matteo Ricci missionaris sukses di Cina, sangat genius dalam banyak hal, satu-satunya missionaris yang boleh dimakamkan di makam Kerajaan di Beijing. Ingin aku berziarah ke makamnya. Semoga suatu hari.

Read more
Korea dari Kacamata Seorang Peziarah
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
November 7, 2018
0

Dari Osaka Jepang, peziarah melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan, dengan Korean Air kurang lebih 1.5 jam perjalanan. Mendengar kata Korea, barangkali yang pertama tama kita pikirkan adalah budaya K-Pop yang sedang melanda dunia melalui film-filmnya atau pun musiknya. Atau barangkali seorang Julia Kim, yang pada waktu yang lalu mendapatkan pengalaman-pengalaman “rohani” yang menghebohkan, namun saat ini para peziarah dilarang untuk pergi ke sana oleh otoritas Keuskupan setempat. Maka sebaiknya kita mengikuti aturan Gereja setempat (sentire sum ecclesia).

Tidak dua-duanya. Peziarah dan anggota kelompoknya memusatkan perhatian pada para martir di Korea, maka tujuan utama ke sana adalah tempat-tempat yang berkaitan dengan hal itu, diantaranya : Saenamteo, Mirinae Martyr Shrine dan Jeoldusan Martyr Shrine. Ketiga tempat itu berkaitan dengan Kemartiran dari 103 Santo Korea (93 martir asli orang Korea dan 10 martir missionaris dari Perancis).

Saenamteo

Peziarah berkesempatan mengikuti perayaan Ekaristi di sini. Perasaan haru biru terasakan selama mengikuti perayaan Ekaristi di sini. Dalam situasi itu, peziarah hanya bisa tertunduk pilu dan diam, turut merasakan penderitaan yg diderita oleh para martir yang dibunuh di tempat ini. Seusai Misa kami ke Museum para martir, diantaranya melihat alat2 penderaan dan juga rekonstruksi penderitaan mereka sampai mereka dipenggal kepalanya. Sungguh miris dan memilukan.

Saenamteo berada di antara sungai Han dan benteng kuno sebelah selatan Seoul. Di awal dinasti Yi, tempat ini digunakan sebagai basis pelatihan militer dan tempat eksekusi mati bagi para penjahat besar.

Selama 4 periode pokok penganiayaan orang2 Katolik Korea (disebut periode Shin-Yu 1801, Gi-Hae 1839, Byeong-oh 1846 dan Byeoung-in 1866) banyak imam2 dan orang awam memberikan pengakuan iman mereka melalui tumpahan darah mereka di tempat ini. Di antara mereka di tahun 1801, Imam Cina yg bernama Mum-Mo Ju, Imam Katolik pertama di Korea dan di tahun 1846, Romo Andreas Kim Dae-Geon (Kim Tae- Gon), imam pertama asli korea. Sebelas martir dari sini dikanonisasi menjadi Santo, menambah kemuliaan dan hormat kepada tempat suci ini.

Ada 14 Martir yg dibunuh di tempat ini (2 Uskup, 9 Imam termasuk Romo Kim Tae-Gon dan 3 awam). Gereja Saenamteo layak mendapatkan sebutan Tempat Kudus Para Martir (di tahun 1950) maupun Monumen Para Martir Katolik ( di tahun 1956).

Mengenal hidup singkat Romo Andreas Kim Tae-Gon (1821 – 1846 / 25 tahun)

Kim Dae-Geon / Kim Tae-Gon

Imam dan Santo Korea Pertama. Tak diragukan bahwa dia adalah Santo yang paling terkenal di antara semua martir Korea. Dilahirkan 21 Agustus 1821 di desa Tang Jin, Ayahnya juga menjadi seorang martir dan menjadi salah seorang Santo juga. Dia dipilih sebagai penerima bea siswa seorang Imam dari Perancis untuk belajar di Macau th 1837. Dia di tahbisan Imam di Shanghai di usia 24 tahun, 17 Agustus 1845. Dia kembali ke Korea namun kemudian dia ditangkap, dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya sebagai martir 16 September 1846, di usia 25 tahun saat dinasti Byeung-oh berkuasa. Dia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 5 Juli 1925 dan dikanonisasi menjadi Santo oleh Paus Yohanes Paulus II di Korea Selatan, 6 Mei 1984.

Mirinae Martyr Shrine (Tempat Suci Para Martir)

Berada di Di Anseong, Gyeonggi-do, kurang lebih 2 jam perjalanan dari Seoul mengarah ke Barat Daya.

Alasan mengapa di sebut Mirinae yang berarti Bimasakti / Bintang2 yang bertebaran di langit, karena orang Katolik Korea datang ke sini diam2 untuk menghindari penganiayaan selama dinasti Jeseon, dan lampu2 yang bercahaya yang datang dari rumah2 penduduk, cahayanya seperti taburan bintang2 di angkasa.

Romo Kim dipenggal kepalanya di usia 25 tahun dan tidak diijinkan untuk dikuburkan. Tetapi 40 hari kemudian Vincentius Lee Minsik dapat mencuri tubuh Romo Kim, tentunya dengan kesulitan besar, dan kemudian membawanya dengan digendong menempuh perjalanan sekitar 2 minggu sampai ke Mirinae ini, kemudian dia menguburkannya di sini.
Di sini kita akan mendapati makam St. Andreas Kim Dae-Geon, Santo imam Korea pertama, ibunya Ursula dan Uskup Ferreol dan juga Vincentius Lee Minsik, yang menguburkan tubuh St. Andreas Kim Dae-Geong di sini. Sangat terasa bawa tempat di sini sangat hening dan damai.

Jeoldusan Martyrs Shrine

Lokasi di pinggir Sungai Han. Tempat para martir Korea dibunuh di sini. Tepatnya ada 13 Martir yang disiksa dan dipenggal kepalanya lalu dihanyutkan di Sungai Han selama masa penganiayaan Dinasti Byeong-in 1866. Dari 13 Martir tersebut, 9 imam berasal dari Perancis.

Gereja ini dibangun untuk mengenangkan 100 tahun penganiayaan Dinasti Byeong-in dan untuk mengingat roh Kemartiran di Jeoldusan ini.

3 Mei 1984 JP II berkunjung ke sini, untuk menghormati para martir. Kunjungan beliau berkaitan dengan ulang tahun 200 tahun kekatolikan di tanah Korea. Satu tahun kemudian 1985 Ibu Teresa datang juga ke tempat ini.

Penutup
Korea yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa, 10 juta jiwa bermukim di Seoul. Sebagian terbesar beragama Kristen (Protestant dan Katolik) dihadapkan pada dua buah masalah besar. Tingginya angka bunuh diri dan tingginya angka pengguguran kandungan. Menjadi tugas Gereja yang tidak mudah, untuk menekan angka angka ini. Semoga dari waktu ke waktu, teladan iman para martir Korea, mampu menyadarkan generasi muda mereka untuk menghargai kehidupan manusia, anugerah dari Tuhan sendiri, untuk kita syukuri, dalam keadaan bagaimana pun juga. Para kudus martir dari Korea, doakanlah kami.

FAA

Read more
Mari Berdonasi untuk Pendidikan Para Calon Pastor
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
November 7, 2018
0

Sahabat-sahabat Kristiani di mana saja berada

Salam sejahtera untuk kita semua,

Syukur kepada Tuhan untuk berkat dan perlindunganNya, sehingga sampai hari ini kita masih diperkenankan menikmati rahmatNya melalui hidup kita sehari hari.

Kami hendak menginformasikan bahwa YAYASAN SESAWI (yang dikelola oleh sahabat-sahabat mantan Jesuit) mencoba mengetuk hati Bapak / Ibu / Saudara / Saudari yang budiman untuk mohon dukungan dan memberikan perhatian serta turut ambil bagian dalam pendidikan dan pembinaan calon Imam, khususnya di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang dan Ketapang.

Sedikit gambaran mengenai keadaan siswa di Seminari Menengah Mertoyudan seperti yang dilaporkan oleh Romo Drajat Soesilo sebagai Romo Minister kepada kita sebagai berikut :

Jumlah Siswa Seminari Tahun ajaran 2018 / 2019 : 245 siswa.
Mereka berasal dari 4 keuskupan besar : KAS – 144 siswa, KAJ – 44 siswa, Bandung – 13 siswa dan Purwokerto – 9 siswa dan beberapa keuskupan lain – 35 siswa.

Standar hidup di asrama dan pendidikan formal per siswa per bulan : Rp. 1.950.000,-
Kemampuan orang tua siswa, paroki atau donatur per siswa tiap bulan rata-rata berkisar : Rp. 1.744.000,- sehingga tiap bulan ada kekurangan biaya standard total sebesar Rp. 50.470.000,- untuk menutupi kekurangan tersebut, perlu dicari dana.

Seminari sangat mengharapkan uluran tangan dari berbagai pihak entah donatur atau gereja dimana saja supaya para pendidik dapat lebih fokus memperhatikan segi pendidikan formatio dan pembinaan seminaris sebagai calon Imam di masa mendatang.

Nah mari kita sebagai sahabat Kristiani peduli akan kelangsungan Gereja ke depan, dengan turut ambil bagian dalam membantu pendidikan dan pembinaan calon Imam.

Jangan segan berbagi, karena “dengan berbagi sesungguhnya kita menerima.”
(St. Fransiskus Assisi)

Dana solidaritas bisa ditransfer ke :
Yayasan Sesawi
Rekening Mandiri :
166-00-0900088-6
KCP JKT. Pahlawan Revolusi

Sesudah melakukan transfer, mohon info whatapp ke Pak Yayang (Bendahara Yayasan Sesawi) di nomor Hp. 0816.4842399, supaya bisa dicek dan dana bisa dialokasikan sesuai maksud dan tujuannya.

Terimakasih,
FA. Arijanto
Dupang (Dukung Panggilan) Yayasan Sesawi

Read more
Diakon di Bekasi, Menghayati Asas dan Dasar Latihan Rohani St Ignatius
Agenda Kegiatan
Simon Sugito
September 1, 2018
0

Dialog Konteplatif Sesawi, Bekasi – 22 Agustus 2018

Untuk ketigakalinya, Paguyuban Sesawi mengadakan dialog kontemplatif (Diakon) sebagai komitmen bersama dalam menghidupi semangat Ignasian. Pertemuan di Jakarta sudah disarikan sharingnya oleh Abdi Susanto. Tulisan ini merupakan sari dari pertemuan di Bekasi di rumah Mas Dio/Mb Ina.

BACA JUGA : Kalau Tuhan Sudah Berkehendak

Manusia diciptakan untukmemuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya.Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.

Bagaimana asas dan dasar tersebut nyata dihayati dalam kehidupan keseharian sesawier?

Di kelompok Bekasi hadir 5 sesawier yaitu saya sendiri (Simon Sugito), Anjar, Koh Agung dan Dian, Damar serta tuan rumah Dio dan Ina. Acara dibuka Dio dengan menjelaskan kembali secara ringkas apa itu dialog kontemplatif dan urutan tata caranya. Dialog kontemplatif ini diperkenalkan kepada Sesawi oleh Romo Leo Agung Sardi, SJ pada saat memberikan pendalaman spiritualitas Ignatian di Klender Bulan Maret. Penjelasan singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada Anjar yang baru pertama kali ikut diakon. Selain itu juga sebagai pengingat bagi peserta lain.

Dian memulai sharing dengan pergulatan mengelola kantin dengan jam kerja yang kenal waktu. Bangun pagi-pagi untuk siapakan masakan sampai sore membereskan alat. Di malam hari harus kembali mikirin masakan apa yang akan disajikan besok.

Belum lagi beberapa pelanggan yang memesan masakan dengan porsi kecil tapi sangat menguras waktu persiapan. Di tengah rutinitas yang membosankan itu, Dian bertanya apa arti semua ini? Apa hubungannya dengan memuliakan Tuhan.

Dian pun bersyukur karena kantinnya menyediakan makanan dengan harga terjangkau pelanggan utamanya untuk karyawan berpenghasilan pas-pasan seperti cleaning service, satpam yang sering terlihat senang dan puas dengan makanan di kantinnya. “Mungin itu cara saya memahami bagaimana saya memuliakan Tuhan dalam pekerjaan saya..”

Sementara Damar bercerita tentang pergulatannya menghadapi atasan sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tidak mudah memaknai lepas bebas bila dikaitkan dengan pengelolaan emosi. Bagaimana harus menjalankan tugas-tugas yang diberikan atasan padahal tidak sesuai jabatannya. Di situ, Damar merasa bahwa pekerjaannya merupakan berkat. Saat kita fokus pada apa yang tidak mengenakkan, kita sulit berkembang. Namun ketika fokus pada peluang-peluang yang ada, di situlah letak kualitas kita sebagai manusia latihan rohani yang memahami asas dan dasar.

Dio melanjutkan sharing dengan bercerita tentang pergulatannya menerima keputusan kaprodi IKJ yang mengurangi mata kuliah yang ia ampu. Padahal mata kuliah itu dulu ia tolak. Di sini dia belajar bagaimana melihat tujuan besar dari institusinya melalui keputusan kaprodi. Kecintaannya pada subyek mata kuliah tersebut bisa jadi menjadi contoh kelekatan tak teratur. Walau berat, Dio taat pada keputusan institusi.

Ina, istri Dio melanjutkan cerita bagaimana dirinya memahami batas rasa rela dan tidak rela melepaskan putranya semata wayang menjadi frater OFM Cap. Sebagai ibu, dirinya sebenarnya sadar bahwa puteranya sudah cukup dewasa memutuskan pilihan hidupnya. Namun karena dirinya seorang ibu jugalah ia masih sering ingin diyakinkan keputusan yang diambil puteranya itu. Banyak hal yang belum ia pahami dengan arti sebuah panggilan. Namun, akhirnya Ina harus menyerahkan segalanya pada Tuhan yang selama ini ia imani.

Koh Agung yang biasanya banyak cerita juga menyampaikan betapa selama ini ia kerap kali tidak disukai orang karena sikapnya yang taat aturan hingga harus pulang dan memberi dukungan pada bisnis yang dijalankan istrinya. Rutinitas pekerjaan kadang membuatnya sangat bsan tetapi itulah yang kemudian lama kelamaan mendidik hatinya untuk bisa melihat segala sesuatu dengan rasa syukur.

Simon sendiri beryukur dengan sharing teman-temannya yang sudah senior. Betapa semuanya kaya pengalaman dan makna. Sejak memutuskan resign dari Kalbe dan mengembangkan Lontar Edukasindo yang dihadapi adalah rasa sepi dalam bekerja. Simon merasa tertantang harus mengembangkan serius passionnya selama ini membangun karakter anak muda.

Pada dasarnya kami semua menyadari bahwa keterbukaan pada kehadiran Tuhan merupakan hal yang penting agar kita benar-benar memahami kehendakNya. Kesungguhan kita menjalankan setiap perutusan menjadi sumber kekuatan saat menghadapi desolasi, kesepian, kekacauan. Dalam setiap langkah dalam pekerjaan kita sehari-hari kita selalu bisa dan penting memanfaatkan tools yang diberikan Santo Ignatius : tahu mana yang sarana, mana yang tujua sehingga tidak salah arah.

 

Read more
Kalau Tuhan Sudah Berkehendak
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
August 22, 2018
0

(Sebuah rangkuman sharing dialog kontemplatif di rumah Esti/Wahyu, Selasa, 22 Agustus 2018)

Pemahaman tentang asas dasar yang diajarkan Santo Ignatius Loyola membiasakan teman satu ini (Wahyu) selalu bertanya ‘apa tujuanya’ atas semua hal yang dialaminya. Misalnya kalau hendak pergi ke suatu tempat, pertanyaan yang muncul apa tujuan saya ke sini? Tak hanya persoalan purpose/maksud tetapi pertanyaan ‘mengapa’ juga melengkapi. Dua pertanyaan ini seolah identik dalam setiap langkah.

Maka dalam dialog kontemplatif kali ini sebagian besar kawan menceritakan pengalaman dan pergulatannya dan nyaris selalu bertanya “why”, mengapa saya mengalami ini. Abdi yang keluar dari Serikat Jesus karena tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan selama puluhan tahun juga menanyakan ‘kenapa ini mesti terjadi?’ hingga suatu saat pertanyaan mengapa terjawab bahwa dirinya punya tugas untuk membantu banyak orang yang kerap kurang punya pengalaman pribadi akan Yesus. Pertobatan yang dialami di tahun 2015 menjadi titik tolak untuk makin menegaskan misi hidupnya memberi pencerahan bagi anak-anak muda. Dan pertanyaan atas ‘tujuan hidup’ itu terjawab sudah.

Pak Winoto menemukan pertobatan dan pembalikan hidup dimulai dari hal-hal sepele. Pengalaman kerap berselisih dengan pasangan selama puluhan tahun karena hal-hal sepele, dia yang selalu ceroboh, teledor sementara istrinya yang rapi, teratur juga sempat membuatnya bertanya ‘mengapa’. Namun pengalaman itu akhirnya membawanya pada satu pertobatan, perubahan hidup yang cukup fundamental. “Dulu saya memang sombong, tapi istri sayalah penyelamatnya,”ujar sesepuh Sesawi ini. Pengalaman Bernadeth nyaris mirip seperti Pak Wi.

Lain lagi dengan Irwan Setiabudi. Penegasan tentang asas dan dasar bahwa tujuan hidup adalah untuk memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan membuatnya makin yakin untuk mengisi masa pensiunnya mengurus anak-anak panti asuhan. “Saya makin yakin bahwa inilah tugas yang harus saya jalani,”ujarnya. Rupanya wawan hati ini membuatnya yakin atas hal yang selama ini masih dia ragukan.

Sementara Esti menceritakan betapa keberanian untuk memilih kebenaran dalam setiap pilihan yang harus dibuat di tempat kerja dibanding memilih hal-hal yang lebih menguntungkan pribadinya justru membuatnya merdeka. Tuhan selalu memberi jalan dan membantunya. Dari ceritanya seolah kalimat, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat.6:33-34) bergema.

Pengalamannya mengejar keinginan punya anak lagi akhirnya stop ketika pernyataan,”kamu tidak bisa memaksa Tuhan untuk mengikuti keinginanmu. Rezeki, jodoh, dan lain-lain itu Tuhan yang ngatur,”dilontarkan padanya oleh seorang dokter muslim yang ditemuinya.

Dan mirip sekali dengan pengalaman Ignatius, Wulan mengungkapkan pengalaman luar biasa saat dirinya benar-benar tidak lagi fokus pada upaya mengejar keinginan “memiliki anak”. Titik itu dimulai saat setelah menikah puluhan tahun lalu hamil. Namun sayang, tidak lama (hanya tujuh minggu), bayi yang di kandungan itu harus digugurkan karena di luar rahim. Stres, marah dan kecewa pada Tuhan, itulah yang berkecamuk di hatinya selama berbulan-bulan.

Namun justru pengalaman-pengalaman setelahnya membuatnya yakin betapa Tuhan punya rencana lain atas dirinya. Pengalamannya membantu komsos KWI (menjadi penulis) di berbagai keuskupan, menjadi tempat curhat teman-temannya membuatnya yakin Tuhan telah menunjukkan rencana yang lebih besar dari sekadar “menunggu kedatangan anak.”

Dan cerita Paulus menegaskan bahwa setiap langkah yang kita lakukan pada dasarnya selalu merupakan tarik ulur antara memenuhi keinginan/ambisi pribadi dengan Kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah berkehendak, cepat atau lambat harus dijalani.

Read more
Memperkenalkan St. Paulus Miki (1565 – 1597 / 33 th), Martir Kudus Asli Jepang
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
July 3, 2018
0

KUNJUNGAN peziarah ke Nagasaki, Jepang, membuat hati tidak bisa berhenti diam. Betapa menyedihkan perjalanan kristianitas di Jepang ini, dengan tumpahnya darah para martir yang begitu banyak, khususnya di Nagasaki, namun sekaligus membanggakan sebagai sesama saudara seiman karena generasi awal yang memiliki iman setangguh itu. Jelas peziarah langsung terpukul, betapa rapuhnya iman peziarah dibandingkan mereka. Uh.. Tak ada apa-apanya. Demikian kegelisahan peziarah ingin diungkap dengan sharing ini supaya para pembaca sempat mengikuti dan berjalan bersama.

Monument di Bukit Para Martir, Nishizaka, Nagasaki

Catatan singkat Santo Paulus Miki

Lahir dari keluarga Kristen yg sangat terhormat dan terpandang karena kedudukan Samurai / Ksatria dari ayah yang bernama, Miki Handayu. Dia adalah salah satu murid unggulan dari Seminari Azuchi. Dia masuk Serikat Jesus di tahun 1585 dan dia dikenal sebagai salah satu pengkotbah ulung di Jepang. Sesudah menyelesaikan study di Arima dan Amahusa, Dia berkotbah di Nagasaki dan Osaka. Dia hampir ditahbiskan menjadi imam ketika dia ditambahkan ke bilangan kelompok 26 Martir yang disalibkan di bukit Nishizaka, Nagasaki pada 5 Feb 1597.

St. Paulus Miki di atas kayu salib

Dalam perjalanannya dari Kyoto ke Nagasaki (sekitar 900 km / jalan kaki 1 bulan), dia berkotbah setiap hari. Kotbah terakhir yang disampaikan di atas salib demikian :
Kamu semua yang ada di sini, dengarkanlah saya. Saya bukan orang Philipina, saya orang Jepang asli dari lahir dan saudara dalam Serikat Jesus. Saya tidak melakukan kejahatan dan satu2nya alasan mengapa saya dihukum mati adalah bahwa saya telah mengajarkan ajaran Tuhan kita Yesus.

Reliqui ketiga saudara SJ

Saya bersukacita untuk kematian dengan alasan tersebut dan saya melihat kematian saya sebagai sebuah rahmat yang besar dari Tuhan. Di waktu yang sangat pendek ini, yakinlah bahwa saya tidak sedang memperdaya kamu, saya ingin menekankan dan membuatnya jelas bahwa manusia tidak akan mendapatkan keselamatan kekal kecuali menjadi orang Kristen. Hukum Kristen mengajarkan bahwa kita harus mengampuni musuh2 dan mereka yang bersalah kepada kita. Oleh karena itu saya harus mengatakan di sini bahwa saya mengampuni Taikosama (Hideyoshi yang menyalibkannya). Saya sangat berharap bahwa seluruh orang Jepang menjadi Kristen. (Catatan dari Fr. Luis Frois, 1597)

Nb. Catatan kotbah ini disampaikan jauh sebelum Konsili Vatikan kedua 1962-1965 yang buah hasilnya salah satunya adalah ajaran Gereja bahwa keselamatan ada di luar Gereja.

St. Paulus Miki

Berikut daftar ke 26 Martir yang disalibkan di Bukit Nishizaka di Nagasaki atas perintah Toyotomi Hideyoshi, 5 Feb 1597, 20 Santo asli Jepang dan 6 imam asing :
1. St. Francis
2. St. Cosmas Takeya
3. St. Peter Sukejiro
4. St. Michael Kozaki
5. St. James Kisai SJ
6. St. Paul Miki SJ
7. St. Paul Ibaraki
8. St. John of Goto SJ
9. St. Louis Ibaraki
10. St. Anthony
11. St. Peter Baptist OFM
12. St. Martin of the Ascension OFM
13. St. Philip of Jesus OFM
14. St. Gonzalo Garcia OFM
15. St. Francis Blanco OFM
16. St. Francis of St. Michael OFM
17. St. Matthias
18. St. Leo Karasumaru
19. St. Bonaventure
20. St. Thomas Kozaki
21. St. Joachim Sakakibara
22. St. Francis
23. St. Thomas Dangi
24. St. John Kinuya
25. St. Gabriel
26. St. Paul Suzuki

St. Paulus Miki dan para martir kudus dari Nagasaki, doakanlah kami.

FAA

St. Fransiskus bersama St. Jakobus Kisai, St. Paulus Miki dan Yohanes Goto

Read more
Dialog Kontemplatif Bakoel Koffie, Cikini : Diskresi Sepanjang Hidup
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
June 23, 2018
0

DISKRESI atau pembedaan roh disadari sebagai pengalaman yang sudah, sedang dan akan terus menerus dijalankan selama hidup (Yayang). Tak hanya dalam persoalan besar yang menentukan ‘hidup mati’ seseorang, istilahnya, tapi juga pada persoalan sederhana. Misalnya keputusan apakah mau ikut aktivitas sesawi atau pilih kegiatan di tempat lain. Dan masih banyak lagi.

Dalam banyak kesempatan, saat membuat keputusan seringkali kita juga tidak sadar dijebak dan dikuasai roh jahat lewat kelemahan-kelemahan kita (ambisi mencapai puncak karier, grusa-grusu tanpa perhitungan, kecenderungan meremehkan, atau sekadar senang tidak senang). “Yang mestinya ada pekerjaan tapi kok malah santai-santai nonton tv,”kata Yayang. Saat itulah kita harus terima bahwa keputusan yang dibuat seringkali kurang membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi perkembangan pribadi.

Yang aneh, kesalahan dalam memutuskan (istilah yang sering kita buat) kerapkali tidak lantas membuat kita terpuruk meski perjuangan untuk bertahan pada hal baik tidak mudah. Tuhan justru seolah mengubah kesalahan itu menjadi berkat, bermakna. Lewat akal budi, sikap pasrah Tuhan memengaruhi kita untuk memberi arti pengalaman kesalahan itu.

Tidak jarang keputusan-keputusan yang kita ambil bertentangan dengan orang banyak, bos atau mungkin tidak masuk di akal kita.”Keputusan untuk pindah kerja mungkin merupakan hal yang tidak masul akal karena harus menyelesaikan hutang rumah di kantor lama. Saat itu tidak punya uang sebanyak yang harus dibayar, tapi ternyata bisa terbayar,”ujar Abdi.

Wira yang saat ini sedang dalam kondisi ekonomi yang ‘berat’, bahasa dia menderita, merasakan sepertinya beberapa bulan lalu bahkan hingga kini serasa tidak masuk akal. “Rasanya seperti di padang gurun, tapi kok saya sendiri tidak merasa kehausan,”ujarnya. Ketekunan berdoa, kerelaan hati sekaligus upaya setiap hari mengirim aplikasi (lamaran kerja) bisa jadi itu yang membuatnya tetap bertahan kuat dalam situasi sulit.

Pengalaman lain menyatakan, Tuhan seringkali bertindak tidak seperti yang kita bayangkan. Asal kita mengikuti dorongan yang muncul dalam hati kita lalu menjalaninya dengan ikhlas, biasanya akan membahagiakan. Seperti yang dialami Dio saat mesti belajar di STM Pembangunan sementara kakak dan adik-adiknya berkesempatan belajar di SMA umum. Ikhlas dia jalani meski ada pelarian ke arah yang positif. Dia akhirnya masuk Seminari Mertoyudan dan diterima di Serikat Yesus. Lebih membanggakan meskipun akhirnya keluar.

Proses selanjutnya juga tidak terduga sama sekali kalau kemudian dia terdampar di Institut Kesenian Jakarta dan mengajar di sana, padahal sebelumnya sudah ada kesempatan kerja di Bontang. Dia hanya kebetulan diajak Ina (waktu itu belum jadi istrinya) ke kampus itu.

Demikian juga yang dialami Abdi. Dalam banyak hal, pria asal Semarang ini mendasarkan keputusannya pada feeling. Bahasa kerennya intuisi. Dorongan kuat yang dirasa diikutinya. Hingga terjadilah sesuatu yang tak diduga. Yang tadinya dia tidak tahu apa-apa tentang website lalu diikuti dorongan untuk belajar sampai tidak tidur, sekarang bisa membuat banyak hal dengan website. Demikian juga saat memutuskan hendak pindah kerja. Feeling atau dorongan kuat yang dipercaya datang dari Tuhan itu diikutinya. Yang terjadi, di tempat baru tawarannya lebih bagus.

Agak berbeda dengan Wahyu yang mengungkapkan pengalaman lain tapi esensinya sama. Pemberian prioritas dan bobot pada setiap pertimbangan yang dibuat membantunya menyelesaikan persoalan. Prioritas pada keluarga tidak lantas membuatnya kecewa telah menolak kesempatan bagus bekerja di Malaysia sebagai Pimpinan Perusahaan. Justru, prioritas inilah yang membebaskannya karena dirinya sudah lepas dari ambisi pribadi.

Pada dasarnya para bapak ini meski sudah lama sekali berkajang dalam berbagai pembuatan keputusan, kerapkali masih sering keliru, dibebani oleh kodratnya sendiri sebagai manusia dan tidak jarang jatuh dalam kesalahan. Tapi banyak juga pengalaman yang membahagiakan karena tools atau sarana yang telah dibuat Santo Ignasius (Discerment of Spirit) itu sangat membantu menimbang berbagai masalah hingga terjadilah sebuah keputusan. Ya, hidup ini seolah on going discernment, selalu mencari kehendak Tuhan.

Read more
Dialog Kontemplatif Sesi I di Resto Kembang Goela Semanggi
Agenda Kegiatan
Simon Sugito
May 31, 2018
0

Rabu, 9 Mei 2018 yang lalu, 13 anggota Paguyuban Sesawi melakukan pertemuan kecil dengan suasana ringan di Resto Kembang Goela Semanggi. Pertemuan ini sebagai tindak lanjut retret pembekalan spiritualitas Ignasian yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Dengan metode dialog kontemplatif peserta dituntun untuk merefleksikan bagaimana selama ini sesawi membangun dan memelihara persahabatan rasuli dengan bercermin pada pengalaman Ignasius di awal berdirinya serikat.

Dengan suasana santai, peserta dibagi menjadi dua kelompok kecil (bapak-bapak dipisahkan dari ibu-ibu) dengan tujuan masing-masing peserta bisa lebih leluasa ber-sharing ria. Kemudian, benang merah dari kedua kelompok kecil disatukan di tahap kedua saat semua peserta kembali ke kelompok besar.

Dari kelompok bapak-bapak, Pak Winoto menyarikan sharing kelompok dengan sangat menarik; bahwa selama ini Sesawi telah tumbuh sebagai sebuah perkumpulan (persahabatan) yang bisa dikatakan “gayeng”, terlebih saat arisan dan dalam acara-acara natalan bersama. Persahabatan keluarga Sesawi memiliki keakraban yang khas bila dibandingkan dengan kelompok lain karena didasari semangat spiritualitas yang sama.

Sementara dari kelompok Ibu-Ibu yang hadir membuat kesimpulan bahwa keluarga sesawi memberikan makna lebih dalam hidup sehari-hari. Syukur menjadi bagian komunitas ini memunculkan keinginan utk berbuat lebih banyak bagi sesawi maupun lingkungan sekitar. Bahkan ada yang menyesalkan kenapa tidak dari dulu-dulu ada sesawi sehingga friksi dan salah mengerti terhadap sikap pasangan dapat diminimalisir.

Komunitas Sesawi dirasakan memiliki “bounding” yg kuat dan memberi pengaruh dlm menyikapi kehidupan khususnya saat menghadapi masalah-masalah, sehingga muncul rasa “nyaman” utk menjadi diri sendiri dan apa adanya saat berelasi dgn teman-teman sesawi.

Hubungan dan kepercayaan yang terjalin ini jauh lebih kuat dibanding terhadap keluarga inti sendiri. Merasa memiliki kesamaan dan saling menguatkan memunculkan sikap menerima dan memahami pasangan, akhirnya bisa menerima sikap pasangan /suami yg dianggap lebih baik ketimbang kalau memiliki pasangan bukan dari sesawi.

Selalu ada kerinduan dan keinginan untuk selalu berkumpul dgn keluarga dan sahabat-sahabat sesawi krn melihat tak ada sekat dan perbedaan meski memiliki usia dan latar belakang berbeda. Nilai-nilai Ignatian tentang persahabatan, doa, dan spiritual yang didapat dari teman-teman sesawi membantu masing-masing pribadi saat menghadapi maupun menyikapi masalah hidup dan sesama. Anak-anak yang dilibatkan dlm komunitas juga memberikan rasa tenang. Pada intinya Ibu-Ibu merasa senang dan bersyukur bisa mencecap semangat Ignatian yang ditularkan pasangannya.

Sebagaimana kekhasan kontemplasi dialogis adalah sikap mendengarkan dengan keseluruhan diri, maka apa yang disharingkan menjadi bahan refleksi peserta untuk terus dikerucutkan menjadi simpulan yang akan menjadi buah rohani bersama. Di akhir sesi, Pak Winoto memberikan sebuah pertanyaan reflektif, bila sekarang ini Sesawi sudah menjadi wadah persahabatan di antara anggotanya; apa yang kemudian bisa dihasilkan?

Karena pertanyaan tersebut membutuhkan proses lagi untuk dijawab, pak Win mengusulkan supaya masing-masing anggota Sesawi melakukan apa yang mungkin bisa segera dilakukan, yaitu mengembangkan nilai-nilai spiritualitas Ignasian dalam keluarga dan masyarakat sekitar sesuai visi paguyuban dan yayasan Sesawi.

Dialog kontemplatif kali ini merupakan salah satu bentuk usaha kami untuk mencari metode-metode yang sesuai dalam menghidupkan spiritualitas Ignasian di dalam anggota. Dan pertemuan kali ini begitu hidup dan membuahkan point-point yang bisa dikembangkan. Tak terasa, pertemuan berlangsung mengalir dari jam 17.30 -22.00.

Selanjutnya, kelompok kecil ini akan mengundang anggota-anggota Sesawi lainnya untuk mengadakan pertemuan serupa dalam kelompok-kelompok kecil sesuai area tempat tinggal. Tema akan tetap memperdalam Membangun dan Memelihara Persahabatan Rasuli.

Read more
Arisan yang Gayeng di Rumah Mbak Suzi
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
May 30, 2018
0

Arisan kali ini tidak diadakan di Hari Minggu seperti biasanya melainkan hari Selasa karena kebetulan ada hari libur di tanggal 29 Mei menyambut Hari Raya Waisak. Di Duren Sawit, kediaman Mas Adi Presetyo dan Mbak Suzi, ‘para kadang’ (red:saudara) paguyuban merapatkan diri menikmati suasana hangat, persaudaraan yang menyenangkan sambil merasai segarnya sop buntut hasil olahan sang nyonya rumah, Mbak Suzi.

Bapak-bapak seperti biasanya tidak pernah nyampur bareng ibu-ibu yang ngomongin jualan, jalan-jalan, atau apa saja. Ada yang cerita masa lalu, ada juga yang cerita masa depan tentang Yayasan Sesawi. Sementara kopi bawaan Koh Yayang tetap ngepul tiada habisnya. Koh Agung yang datang agak siangan menggunakan motor tiba-tiba menyampaikan kabar berita kalau dirinya terkena pembengkakan jantung. Kami pun ikut prihatin tapi juga langsung merasa diri harus mewaspadai diri.

Sementara itu ibu-ibu berencana akan membuat kegiatan latihan make up pada kesempatan arisan mendatang di rumahnya Mbak Wulan, di Depok. Bapak-bapak juga tidak ketinggalan dengan beberapa rencana yang sudah pernah dibuat untuk mengadakan dialog kontemplatif lagi di sebuah tempat, di kafe-kafe yang bisa dibooking setiap saat. Pak Winoto meminta Abdi Susanto mengoordinir. Semua bubar setelah Pak Winoto pamit hendak menemui temannya yang datang dari Jerman.

Seperti air mengalir, satu datang lalu semua datang dan satu pergi lalu semua pergi. Begitulah hidup. Kegembiraan terpancar dari wajah-wajah yang tampak kegerahan karena memang cuacanya sedang panas meski Bulan Puasa Ramadan.

Read more
Segarnya Sweeke Kodok di Arisan Bulan April
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
April 27, 2018
0

Arisan Paguyuban Sesawi tak terduga melebihi ekspektasi dari segi jumlah. sampai sang tuan rumah Mbak Ana, istri Koh Yayang harus menambah menu Sweeke satu wajan besar lagi. “Ini ditambah lagi karena tadinya mengira nggak sebanyak ini,”ujar Ibu dua anak ini, Minggu (15/4/2018) di kediamannya di Bekasi.

Pak Anastasius Wahyuhadi yang kebetulan saat itu merayakan ulang tahun ke-73 mendapatkan kue tart dan doa serta nyanyian ulang tahun. Dan tentu saja dapat menikmati sweeke ala Purwodadi yang enak sekali buatan Mbak Ana yang memang lahir serta besar di Wirosari, Purwodadi, Jawa Tengah.

Meski suasana cukup gerah, kenikmatan siang itu dalam obrolan santai serta segarnya sweeke tak membuat para anggota Sesawi mengeluh. Para bapak ngobrol apa saja sambi nyeruput kopi Javaro yang diroasting oleh sang tuan rumah. Sementara para ibu yang arisan segera membuka kocokan arisan. Yang jualan langsung transaksi di tempat. Yang menikmati makanan sambil ngobrol juga ada.

Kegayengan siang itu berakhir setelah satu per satu undur diri dan pamit pulang. Tentu saja sambil membawa kudapan jajan pasar yang memang agak lebih.

Read more
Skip to toolbar