Josef Kristiadi, hadir dalam Dialog Kontemplatif Sesawi. Memperkaya pengalaman. Foto : Screenshot Zoom

Dialog Kontemplatif kali ini agak beda dengan yang lain. Kami kedatangan tamu pengamat politik, Josef Kristiadi. Meski bukan anggota Sesawi, Pak Kristiadi mencoba ikut membagi pengalaman terkait tema : Peran Keinginan/Hasrat dalam Latihan Rohani Santo Ignatius yang berlangsung secara online pada Minggu, 5 Juli 2020 siang (Pkl. 14.00 – 16.00).

Dalam sharing yang disampaikannya, Kristiadi menyampaikan bahwa dalam perjalanan hidupnya banyak mujizat (hal yang sama dialami Paulus Prawira bahwa mujizat itu nyata) yang dialami sebagai tanda kehadiran Tuhan. Yang paling kentara adalah perjalanan sekolah. “Sebagai siswa dari keluarga miskin saya rasa mustahil kalau saya bisa sekolah sampai tinggi,”ujarnya.

Perjalanan hidup yang rekoso (menderita) itu dialaminya terus. “Sampai sekarang saya mengalami itu terus,”kata Kristiadi. Dia sadar, ikut Yesus itu harus berani sengsara dan mati. Harus berani satu dengan kesengsaraan itu.

Panggilan hidupnya disadarinya ketika masuk Pemuda Katolik. “Sejak dulu saat masuk SMA adalah memperbaiki negara. Merasul bagi saya efektif di bidang politik,”tegasnya.

Sementara itu Dedy Kristanto mengungkapkan pengalaman yang mirip. Sejak lama dia seolah tidak pernah lepas dari pengalaman Yesus yang disalib, karena memang sejak masuk Serikat Yesus semangat jalan salib sebagai jalan pembebasan itulah yang menarik dirinya.

Selama menjadi mahasiswa, keluar dari Serikat Yesus hingga bekerja di beberapa perusahaan pun Dedy selalu dihadapkan pada orang-orang yang harus dibelanya. “Saya sebenarnya berusaha untuk keluar dari situ dan bertanya apakah ini sekadar untuk mengekspresikan diri, memuaskan hasrat heroisme atau benar-benar dipanggil untuk menghidupi Yesus yang disalib,”tanyanya.

Sampai beberapa orang yang dicintainya meninggalkan dirinya ke Bapa, Dedy ingin benar-benar keluar dari perjalanan salib itu. Akhirnya, setelah setahun lebih Dedy memutuskan mengumpulkan pengalaman-pengalaman sejak kecil tentang pembebasan masyarakat kecil, terbelakang, tertindas.”Saya sudah berulangkali menghindar dari jeratan jalan salib, tetapi kalau itu kehendak Tuhan saya akan jalani meski tidak mudah,”

Sesepuh Sesawi, Winoto Doeriat mengungkapkan pengalaman bahwa tuntutan Tuhan itu sering tidak nyata, tapi ada garis yang bisa kita lihat, ke arah perbaikan.

“Seperti pengalaman tadi pagi, Tuhan menuntun saya untuk mengikuti misa di Parokinya Rm Roesbani. Kok pas Romo kotbah tentang cinta kasih. Sambil mendengarkan kotbah saya merangkul istri. Ini bukti saya merasakan kehadiran Tuhan dalam diri saya,”ujar Pak Win, begitu pria ini sering disapa.

Sementara itu Tony Sardjono, Abdi, dan Wira mengalami hal yang nyaris sama. Hasrat akan Tuhan dirasakan justru saat-saat menjalani Lockdown alias PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dorongan untuk menjalani hidup ‘suci’ dirasakan begitu kuat. Itu membuat hidup ini dijalani dengan tenang meski ada beban yang harus ditanggung.

Sementara itu Yayang dan Lukas mengungkap hal yang juga kurang lebih sama. Hingga kini, belum jelas sebenarnya apa yang dikejar. “Saya masih harus mencari tujuan hidup. Saya harus melangkah bagaimana,”ujar Yayang dan Lukas.

Ruy atau Raphael Udik Yunianto menegaskan bahwa dalam setiap fase hidup Ignatius, dia selalu mencari kehendak Allah. “Maka sangat masuk akal kalau dalam Latihan Rohani keadaan miskin, sakit, gagal, sukses, kaya itu hanyalah tools/sarana untuk mengetahui kehendak Allah.”

Sejauh mana diri kita (self) mengantar kepada kehendak Tuhan itu tergantung dari kualitas kesadaran (quality of awakening). Makin tinggi kualitas kesadarannya, makin sadar bahwa setiap hal menjadi penting. “Semua itu adalah sabda, Tuhan mau bicara apa?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

20 − thirteen =