Dialog Kontemplatif kali ini agak berbeda dengan sebelumnya karena metode sharing mengikuti petunjuk Pembimbing Rohani, Romo Sardi SJ, berlangsung tiga putaran. Putaran pertama sharing sekali dan dilanjut dua kali mengungkapkan hal yang mengesan. “Itu berarti kita lebih banyak mendengarkan,”kata Ketua Yayasan Sesawi Markus Sunarto, Minggu (14/06/2020).

Tidak ada cerita-cerita ekstrem yang muncul dari pengalaman-pengalaman sahabat Ignatian kali ini meski yang jadi pijakan sharing adalah Hati Kudus Yesus dan Injil Matius 11:28-30. Meski begitu, Sunarto sendiri merasa selalu rindu untuk melakukan adorasi pribadi. Kata-kata Yesus dalam Injil Matius itu dianggapnya sebagai undangan di kala penat, situasi sulit. “Segala beban saya letakkan. Karena itu, setiap kali ada adorasi di tempat ziarah saya selalu datang lebih dulu dibanding ke Gua Maria,”ujar Sunarto.

Gabriel Abdi yang memulai sharing, sebelumnya juga menceritakan bahwa kehadiran Yesus dalam Sakramen Maha Kudus memunculkan panggilan untuk bertobat terus menerus, tanpa dipaksa. Hal yang sama dialami Sunarto juga. “Setiap kali adorasi atau menghormat Sakramen Maha Kudus saya sering menangis seperti ikut merasakan kesedihan Yesus atas dosa-dosa saya dan dosa yang dilakukan dunia ini,”ujar Abdi.

Yudho yang saat ini berada di Kudus menceritakan kisah betapa Yesus yang sangat baik itu menyembuhkan ibunya yang sakit dan sudah diberi sakramen perminyakan. Pertolongan Yesus membuat ibu masih sehat hingga sekarang. “Ibu berkat pertolongan Yesus. Saat ibu sakit saya berdoa di depan Sakramen Maha Kudus. Di situ saya menangis dan minta tolong Tuhan. Dan Tuhan benar-benar menolong,”ujar Yudho.

Hati Yesus yang Maha Kudus ini pulalah yang juga meruntuhkan ego sesepuh Sesawi, Winot Doeriat yang merasa bahwa dirinya keras kepala dan selalu tidak mau kalah. “Hati Yesus yang lembut dan murah hati, jadikan hatiku seperti hatiMu. Itu doa yang saya sering ucapkan,”ujarnya. Namun justru doa itulah yang membuatnya dia selalu terbentur-bentur (mengalami situasi yang berlawanan dengan sifatnya saat di rumah yakni diperintah, dilarang oleh sang istri) hingga akhir mengalami pertobatan dari situ.

Sesepuh Sesawi lain, Harmaka juga menyampaikan hal yang kurang lebih sama. Setiap hari berusaha agar hidupnya mendekati yang Yesus perbuat dan inginkan. “Setiap bangun pagi jam 4 saya selalu berdoa agar saya bisa berusaha sungguh-sungguh sehingga pikiran, perkataan dan perbuatan mendekati Yesus,”ujarnya.

Semua arah sharing ini akhirnya mengerucut pada satu kesimpulan bahwa Hati Yesus yang Maha Kudus begitu lemah lembut dan lapang. KasihNya yang tak berkesudahan sanggup merontokkan ego, kekerasan hati dan membuat kita bertobat tanpa perlu dipaksa. “Hatinya yang suci berani memeluk kekotoran, kekerasan hati kita untuk dilembutkan seperti hatiNya,”ujar Sunarto.

Kerahiman Tuhan inilah yang sanggup membuat kita terpagut untuk selalu bangun dan bertobat meski setiap hari melakukan dosa dan kesalahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 3 =