Sembah Bekti pada Bunda Maria sudah menjadi kebiasaan sejak kecil (SD/ SMP) lewat doa rosario maupun Legio Maria, namun hingga kini belum pernah dialami peristiwa yang tercatat terkait langsung dengan Bunda Maria.

“Mungkin ada dan banyak, tapi seringkali tidak tahu apakah ini karena Bunda atau tidak,”ujar Abdi dalam sesi Dialog Kontemplatif, 24 Mei 2020 siang itu melalui aplikasi Zoom.

Karena itu, pengalaman didampingi dua malaikat saat mendaraskan doa Salam Maria selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tepatnya di bulan-bulan April-Mei 2020 menjadi tanda peringatan bahwa Bunda Maria sebenarnya selalu menunggu dan menyertai.

Pengalaman serupa dialami Damar Harsanto. Catatan dan refleksi khusus yang menyangkut Bunda Maria tidak penah dibuatnya. Tapi dia yakin bahwa Sang Ibu selalu menyertai perjalanan hidupnya termasuk saat kakaknya meninggal.

Pengalaman pernyertaan Ibu Maria ini juga disampaikan panjang dan lebar oleh Pak Wahyuhadi juga Pak Winoto Doeriat. Catatan penting dari pengalaman Pak Win, Bunda Maria tidak pernah merestui keinginan kita yang ditempuh dengan cara tidak patut, semisal ingin menang perkara terus kita menyogok hakim. “Bunda tidak mau itu,”ujar sesepuh Paguyuban Sesawi ini.

Demikian juga Dedy Kristanto yang tinggal di Hong Kong. Dulu saat masih di Seminari Mertoyudan, Romo Pamong tidak pernah menegurnya meski setiap malam terlambat tidur. Karena rupanya Romo tahu bahwa Dedy selalu berdoa kepada Bunda Maria sebelum tidur.

Berkali-kali Sang Ibu juga menolongnya dalam hal-hal kecil dan sepele. Misalnya saat menunggu perahu yang tidak jelas kapan datangnya usai bekerja. Waktu itu hal kerap dialami Dedy saat masih berkarya di Papua.

“Kalau nggak tumpangan perahu, ya saya berdoa rosario. Setelah itu, perahu datang dan saya ikut. Begitu kerap terjadi,”ujar Dedy.

Catatan menarik juga dialami Wira saat mendaftar ke Seminari Mertoyudan. Berkat pertolongan Bunda, dia bisa diterima di Seminari Menengah Mertoyudan. Juga termasuk menolongnya saat situasi sulit seperti ini dimana banyak pengeluaran tapi pemasukan kurang memadai. “Tuhan dan Bunda Maria tetap memberi pertolongan,”ujarnya.

Tentu catatan sekilas ini tidak bisa mewakili yang dialami para sahabat Ignatian. Intinya, semua bicara bahwa peran Bunda Maria yang nyata dalam hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × 1 =