Korea dari Kacamata Seorang Peziarah

0
74

Dari Osaka Jepang, peziarah melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan, dengan Korean Air kurang lebih 1.5 jam perjalanan. Mendengar kata Korea, barangkali yang pertama tama kita pikirkan adalah budaya K-Pop yang sedang melanda dunia melalui film-filmnya atau pun musiknya. Atau barangkali seorang Julia Kim, yang pada waktu yang lalu mendapatkan pengalaman-pengalaman “rohani” yang menghebohkan, namun saat ini para peziarah dilarang untuk pergi ke sana oleh otoritas Keuskupan setempat. Maka sebaiknya kita mengikuti aturan Gereja setempat (sentire sum ecclesia).

Tidak dua-duanya. Peziarah dan anggota kelompoknya memusatkan perhatian pada para martir di Korea, maka tujuan utama ke sana adalah tempat-tempat yang berkaitan dengan hal itu, diantaranya : Saenamteo, Mirinae Martyr Shrine dan Jeoldusan Martyr Shrine. Ketiga tempat itu berkaitan dengan Kemartiran dari 103 Santo Korea (93 martir asli orang Korea dan 10 martir missionaris dari Perancis).

Saenamteo

Peziarah berkesempatan mengikuti perayaan Ekaristi di sini. Perasaan haru biru terasakan selama mengikuti perayaan Ekaristi di sini. Dalam situasi itu, peziarah hanya bisa tertunduk pilu dan diam, turut merasakan penderitaan yg diderita oleh para martir yang dibunuh di tempat ini. Seusai Misa kami ke Museum para martir, diantaranya melihat alat2 penderaan dan juga rekonstruksi penderitaan mereka sampai mereka dipenggal kepalanya. Sungguh miris dan memilukan.

Saenamteo berada di antara sungai Han dan benteng kuno sebelah selatan Seoul. Di awal dinasti Yi, tempat ini digunakan sebagai basis pelatihan militer dan tempat eksekusi mati bagi para penjahat besar.

Selama 4 periode pokok penganiayaan orang2 Katolik Korea (disebut periode Shin-Yu 1801, Gi-Hae 1839, Byeong-oh 1846 dan Byeoung-in 1866) banyak imam2 dan orang awam memberikan pengakuan iman mereka melalui tumpahan darah mereka di tempat ini. Di antara mereka di tahun 1801, Imam Cina yg bernama Mum-Mo Ju, Imam Katolik pertama di Korea dan di tahun 1846, Romo Andreas Kim Dae-Geon (Kim Tae- Gon), imam pertama asli korea. Sebelas martir dari sini dikanonisasi menjadi Santo, menambah kemuliaan dan hormat kepada tempat suci ini.

Ada 14 Martir yg dibunuh di tempat ini (2 Uskup, 9 Imam termasuk Romo Kim Tae-Gon dan 3 awam). Gereja Saenamteo layak mendapatkan sebutan Tempat Kudus Para Martir (di tahun 1950) maupun Monumen Para Martir Katolik ( di tahun 1956).

Mengenal hidup singkat Romo Andreas Kim Tae-Gon (1821 – 1846 / 25 tahun)

Kim Dae-Geon / Kim Tae-Gon

Imam dan Santo Korea Pertama. Tak diragukan bahwa dia adalah Santo yang paling terkenal di antara semua martir Korea. Dilahirkan 21 Agustus 1821 di desa Tang Jin, Ayahnya juga menjadi seorang martir dan menjadi salah seorang Santo juga. Dia dipilih sebagai penerima bea siswa seorang Imam dari Perancis untuk belajar di Macau th 1837. Dia di tahbisan Imam di Shanghai di usia 24 tahun, 17 Agustus 1845. Dia kembali ke Korea namun kemudian dia ditangkap, dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya sebagai martir 16 September 1846, di usia 25 tahun saat dinasti Byeung-oh berkuasa. Dia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 5 Juli 1925 dan dikanonisasi menjadi Santo oleh Paus Yohanes Paulus II di Korea Selatan, 6 Mei 1984.

Mirinae Martyr Shrine (Tempat Suci Para Martir)

Berada di Di Anseong, Gyeonggi-do, kurang lebih 2 jam perjalanan dari Seoul mengarah ke Barat Daya.

Alasan mengapa di sebut Mirinae yang berarti Bimasakti / Bintang2 yang bertebaran di langit, karena orang Katolik Korea datang ke sini diam2 untuk menghindari penganiayaan selama dinasti Jeseon, dan lampu2 yang bercahaya yang datang dari rumah2 penduduk, cahayanya seperti taburan bintang2 di angkasa.

Romo Kim dipenggal kepalanya di usia 25 tahun dan tidak diijinkan untuk dikuburkan. Tetapi 40 hari kemudian Vincentius Lee Minsik dapat mencuri tubuh Romo Kim, tentunya dengan kesulitan besar, dan kemudian membawanya dengan digendong menempuh perjalanan sekitar 2 minggu sampai ke Mirinae ini, kemudian dia menguburkannya di sini.
Di sini kita akan mendapati makam St. Andreas Kim Dae-Geon, Santo imam Korea pertama, ibunya Ursula dan Uskup Ferreol dan juga Vincentius Lee Minsik, yang menguburkan tubuh St. Andreas Kim Dae-Geong di sini. Sangat terasa bawa tempat di sini sangat hening dan damai.

Jeoldusan Martyrs Shrine

Lokasi di pinggir Sungai Han. Tempat para martir Korea dibunuh di sini. Tepatnya ada 13 Martir yang disiksa dan dipenggal kepalanya lalu dihanyutkan di Sungai Han selama masa penganiayaan Dinasti Byeong-in 1866. Dari 13 Martir tersebut, 9 imam berasal dari Perancis.

Gereja ini dibangun untuk mengenangkan 100 tahun penganiayaan Dinasti Byeong-in dan untuk mengingat roh Kemartiran di Jeoldusan ini.

3 Mei 1984 JP II berkunjung ke sini, untuk menghormati para martir. Kunjungan beliau berkaitan dengan ulang tahun 200 tahun kekatolikan di tanah Korea. Satu tahun kemudian 1985 Ibu Teresa datang juga ke tempat ini.

Penutup
Korea yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa, 10 juta jiwa bermukim di Seoul. Sebagian terbesar beragama Kristen (Protestant dan Katolik) dihadapkan pada dua buah masalah besar. Tingginya angka bunuh diri dan tingginya angka pengguguran kandungan. Menjadi tugas Gereja yang tidak mudah, untuk menekan angka angka ini. Semoga dari waktu ke waktu, teladan iman para martir Korea, mampu menyadarkan generasi muda mereka untuk menghargai kehidupan manusia, anugerah dari Tuhan sendiri, untuk kita syukuri, dalam keadaan bagaimana pun juga. Para kudus martir dari Korea, doakanlah kami.

FAA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen − 2 =