Avatar
Hello Guest!
0
Diakon di Bekasi, Menghayati Asas dan Dasar Latihan Rohani St Ignatius
Agenda Kegiatan
Simon Sugito
September 1, 2018
0

Dialog Konteplatif Sesawi, Bekasi – 22 Agustus 2018

Untuk ketigakalinya, Paguyuban Sesawi mengadakan dialog kontemplatif (Diakon) sebagai komitmen bersama dalam menghidupi semangat Ignasian. Pertemuan di Jakarta sudah disarikan sharingnya oleh Abdi Susanto. Tulisan ini merupakan sari dari pertemuan di Bekasi di rumah Mas Dio/Mb Ina.

BACA JUGA : Kalau Tuhan Sudah Berkehendak

Manusia diciptakan untukmemuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya.Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.

Bagaimana asas dan dasar tersebut nyata dihayati dalam kehidupan keseharian sesawier?

Di kelompok Bekasi hadir 5 sesawier yaitu saya sendiri (Simon Sugito), Anjar, Koh Agung dan Dian, Damar serta tuan rumah Dio dan Ina. Acara dibuka Dio dengan menjelaskan kembali secara ringkas apa itu dialog kontemplatif dan urutan tata caranya. Dialog kontemplatif ini diperkenalkan kepada Sesawi oleh Romo Leo Agung Sardi, SJ pada saat memberikan pendalaman spiritualitas Ignatian di Klender Bulan Maret. Penjelasan singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada Anjar yang baru pertama kali ikut diakon. Selain itu juga sebagai pengingat bagi peserta lain.

Dian memulai sharing dengan pergulatan mengelola kantin dengan jam kerja yang kenal waktu. Bangun pagi-pagi untuk siapakan masakan sampai sore membereskan alat. Di malam hari harus kembali mikirin masakan apa yang akan disajikan besok.

Belum lagi beberapa pelanggan yang memesan masakan dengan porsi kecil tapi sangat menguras waktu persiapan. Di tengah rutinitas yang membosankan itu, Dian bertanya apa arti semua ini? Apa hubungannya dengan memuliakan Tuhan.

Dian pun bersyukur karena kantinnya menyediakan makanan dengan harga terjangkau pelanggan utamanya untuk karyawan berpenghasilan pas-pasan seperti cleaning service, satpam yang sering terlihat senang dan puas dengan makanan di kantinnya. “Mungin itu cara saya memahami bagaimana saya memuliakan Tuhan dalam pekerjaan saya..”

Sementara Damar bercerita tentang pergulatannya menghadapi atasan sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tidak mudah memaknai lepas bebas bila dikaitkan dengan pengelolaan emosi. Bagaimana harus menjalankan tugas-tugas yang diberikan atasan padahal tidak sesuai jabatannya. Di situ, Damar merasa bahwa pekerjaannya merupakan berkat. Saat kita fokus pada apa yang tidak mengenakkan, kita sulit berkembang. Namun ketika fokus pada peluang-peluang yang ada, di situlah letak kualitas kita sebagai manusia latihan rohani yang memahami asas dan dasar.

Dio melanjutkan sharing dengan bercerita tentang pergulatannya menerima keputusan kaprodi IKJ yang mengurangi mata kuliah yang ia ampu. Padahal mata kuliah itu dulu ia tolak. Di sini dia belajar bagaimana melihat tujuan besar dari institusinya melalui keputusan kaprodi. Kecintaannya pada subyek mata kuliah tersebut bisa jadi menjadi contoh kelekatan tak teratur. Walau berat, Dio taat pada keputusan institusi.

Ina, istri Dio melanjutkan cerita bagaimana dirinya memahami batas rasa rela dan tidak rela melepaskan putranya semata wayang menjadi frater OFM Cap. Sebagai ibu, dirinya sebenarnya sadar bahwa puteranya sudah cukup dewasa memutuskan pilihan hidupnya. Namun karena dirinya seorang ibu jugalah ia masih sering ingin diyakinkan keputusan yang diambil puteranya itu. Banyak hal yang belum ia pahami dengan arti sebuah panggilan. Namun, akhirnya Ina harus menyerahkan segalanya pada Tuhan yang selama ini ia imani.

Koh Agung yang biasanya banyak cerita juga menyampaikan betapa selama ini ia kerap kali tidak disukai orang karena sikapnya yang taat aturan hingga harus pulang dan memberi dukungan pada bisnis yang dijalankan istrinya. Rutinitas pekerjaan kadang membuatnya sangat bsan tetapi itulah yang kemudian lama kelamaan mendidik hatinya untuk bisa melihat segala sesuatu dengan rasa syukur.

Simon sendiri beryukur dengan sharing teman-temannya yang sudah senior. Betapa semuanya kaya pengalaman dan makna. Sejak memutuskan resign dari Kalbe dan mengembangkan Lontar Edukasindo yang dihadapi adalah rasa sepi dalam bekerja. Simon merasa tertantang harus mengembangkan serius passionnya selama ini membangun karakter anak muda.

Pada dasarnya kami semua menyadari bahwa keterbukaan pada kehadiran Tuhan merupakan hal yang penting agar kita benar-benar memahami kehendakNya. Kesungguhan kita menjalankan setiap perutusan menjadi sumber kekuatan saat menghadapi desolasi, kesepian, kekacauan. Dalam setiap langkah dalam pekerjaan kita sehari-hari kita selalu bisa dan penting memanfaatkan tools yang diberikan Santo Ignatius : tahu mana yang sarana, mana yang tujua sehingga tidak salah arah.

 

,

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + 12 =

Skip to toolbar