Kalau Tuhan Sudah Berkehendak

0
186

(Sebuah rangkuman sharing dialog kontemplatif di rumah Esti/Wahyu, Selasa, 22 Agustus 2018)

Pemahaman tentang asas dasar yang diajarkan Santo Ignatius Loyola membiasakan teman satu ini (Wahyu) selalu bertanya ‘apa tujuanya’ atas semua hal yang dialaminya. Misalnya kalau hendak pergi ke suatu tempat, pertanyaan yang muncul apa tujuan saya ke sini? Tak hanya persoalan purpose/maksud tetapi pertanyaan ‘mengapa’ juga melengkapi. Dua pertanyaan ini seolah identik dalam setiap langkah.

Maka dalam dialog kontemplatif kali ini sebagian besar kawan menceritakan pengalaman dan pergulatannya dan nyaris selalu bertanya “why”, mengapa saya mengalami ini. Abdi yang keluar dari Serikat Jesus karena tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan selama puluhan tahun juga menanyakan ‘kenapa ini mesti terjadi?’ hingga suatu saat pertanyaan mengapa terjawab bahwa dirinya punya tugas untuk membantu banyak orang yang kerap kurang punya pengalaman pribadi akan Yesus. Pertobatan yang dialami di tahun 2015 menjadi titik tolak untuk makin menegaskan misi hidupnya memberi pencerahan bagi anak-anak muda. Dan pertanyaan atas ‘tujuan hidup’ itu terjawab sudah.

Pak Winoto menemukan pertobatan dan pembalikan hidup dimulai dari hal-hal sepele. Pengalaman kerap berselisih dengan pasangan selama puluhan tahun karena hal-hal sepele, dia yang selalu ceroboh, teledor sementara istrinya yang rapi, teratur juga sempat membuatnya bertanya ‘mengapa’. Namun pengalaman itu akhirnya membawanya pada satu pertobatan, perubahan hidup yang cukup fundamental. “Dulu saya memang sombong, tapi istri sayalah penyelamatnya,”ujar sesepuh Sesawi ini. Pengalaman Bernadeth nyaris mirip seperti Pak Wi.

Lain lagi dengan Irwan Setiabudi. Penegasan tentang asas dan dasar bahwa tujuan hidup adalah untuk memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan membuatnya makin yakin untuk mengisi masa pensiunnya mengurus anak-anak panti asuhan. “Saya makin yakin bahwa inilah tugas yang harus saya jalani,”ujarnya. Rupanya wawan hati ini membuatnya yakin atas hal yang selama ini masih dia ragukan.

Sementara Esti menceritakan betapa keberanian untuk memilih kebenaran dalam setiap pilihan yang harus dibuat di tempat kerja dibanding memilih hal-hal yang lebih menguntungkan pribadinya justru membuatnya merdeka. Tuhan selalu memberi jalan dan membantunya. Dari ceritanya seolah kalimat, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat.6:33-34) bergema.

Pengalamannya mengejar keinginan punya anak lagi akhirnya stop ketika pernyataan,”kamu tidak bisa memaksa Tuhan untuk mengikuti keinginanmu. Rezeki, jodoh, dan lain-lain itu Tuhan yang ngatur,”dilontarkan padanya oleh seorang dokter muslim yang ditemuinya.

Dan mirip sekali dengan pengalaman Ignatius, Wulan mengungkapkan pengalaman luar biasa saat dirinya benar-benar tidak lagi fokus pada upaya mengejar keinginan “memiliki anak”. Titik itu dimulai saat setelah menikah puluhan tahun lalu hamil. Namun sayang, tidak lama (hanya tujuh minggu), bayi yang di kandungan itu harus digugurkan karena di luar rahim. Stres, marah dan kecewa pada Tuhan, itulah yang berkecamuk di hatinya selama berbulan-bulan.

Namun justru pengalaman-pengalaman setelahnya membuatnya yakin betapa Tuhan punya rencana lain atas dirinya. Pengalamannya membantu komsos KWI (menjadi penulis) di berbagai keuskupan, menjadi tempat curhat teman-temannya membuatnya yakin Tuhan telah menunjukkan rencana yang lebih besar dari sekadar “menunggu kedatangan anak.”

Dan cerita Paulus menegaskan bahwa setiap langkah yang kita lakukan pada dasarnya selalu merupakan tarik ulur antara memenuhi keinginan/ambisi pribadi dengan Kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah berkehendak, cepat atau lambat harus dijalani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 10 =