Dialog Kontemplatif Bakoel Koffie, Cikini : Diskresi Sepanjang Hidup

0
206

DISKRESI atau pembedaan roh disadari sebagai pengalaman yang sudah, sedang dan akan terus menerus dijalankan selama hidup (Yayang). Tak hanya dalam persoalan besar yang menentukan ‘hidup mati’ seseorang, istilahnya, tapi juga pada persoalan sederhana. Misalnya keputusan apakah mau ikut aktivitas sesawi atau pilih kegiatan di tempat lain. Dan masih banyak lagi.

Dalam banyak kesempatan, saat membuat keputusan seringkali kita juga tidak sadar dijebak dan dikuasai roh jahat lewat kelemahan-kelemahan kita (ambisi mencapai puncak karier, grusa-grusu tanpa perhitungan, kecenderungan meremehkan, atau sekadar senang tidak senang). “Yang mestinya ada pekerjaan tapi kok malah santai-santai nonton tv,”kata Yayang. Saat itulah kita harus terima bahwa keputusan yang dibuat seringkali kurang membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi perkembangan pribadi.

Yang aneh, kesalahan dalam memutuskan (istilah yang sering kita buat) kerapkali tidak lantas membuat kita terpuruk meski perjuangan untuk bertahan pada hal baik tidak mudah. Tuhan justru seolah mengubah kesalahan itu menjadi berkat, bermakna. Lewat akal budi, sikap pasrah Tuhan memengaruhi kita untuk memberi arti pengalaman kesalahan itu.

Tidak jarang keputusan-keputusan yang kita ambil bertentangan dengan orang banyak, bos atau mungkin tidak masuk di akal kita.”Keputusan untuk pindah kerja mungkin merupakan hal yang tidak masul akal karena harus menyelesaikan hutang rumah di kantor lama. Saat itu tidak punya uang sebanyak yang harus dibayar, tapi ternyata bisa terbayar,”ujar Abdi.

Wira yang saat ini sedang dalam kondisi ekonomi yang ‘berat’, bahasa dia menderita, merasakan sepertinya beberapa bulan lalu bahkan hingga kini serasa tidak masuk akal. “Rasanya seperti di padang gurun, tapi kok saya sendiri tidak merasa kehausan,”ujarnya. Ketekunan berdoa, kerelaan hati sekaligus upaya setiap hari mengirim aplikasi (lamaran kerja) bisa jadi itu yang membuatnya tetap bertahan kuat dalam situasi sulit.

Pengalaman lain menyatakan, Tuhan seringkali bertindak tidak seperti yang kita bayangkan. Asal kita mengikuti dorongan yang muncul dalam hati kita lalu menjalaninya dengan ikhlas, biasanya akan membahagiakan. Seperti yang dialami Dio saat mesti belajar di STM Pembangunan sementara kakak dan adik-adiknya berkesempatan belajar di SMA umum. Ikhlas dia jalani meski ada pelarian ke arah yang positif. Dia akhirnya masuk Seminari Mertoyudan dan diterima di Serikat Yesus. Lebih membanggakan meskipun akhirnya keluar.

Proses selanjutnya juga tidak terduga sama sekali kalau kemudian dia terdampar di Institut Kesenian Jakarta dan mengajar di sana, padahal sebelumnya sudah ada kesempatan kerja di Bontang. Dia hanya kebetulan diajak Ina (waktu itu belum jadi istrinya) ke kampus itu.

Demikian juga yang dialami Abdi. Dalam banyak hal, pria asal Semarang ini mendasarkan keputusannya pada feeling. Bahasa kerennya intuisi. Dorongan kuat yang dirasa diikutinya. Hingga terjadilah sesuatu yang tak diduga. Yang tadinya dia tidak tahu apa-apa tentang website lalu diikuti dorongan untuk belajar sampai tidak tidur, sekarang bisa membuat banyak hal dengan website. Demikian juga saat memutuskan hendak pindah kerja. Feeling atau dorongan kuat yang dipercaya datang dari Tuhan itu diikutinya. Yang terjadi, di tempat baru tawarannya lebih bagus.

Agak berbeda dengan Wahyu yang mengungkapkan pengalaman lain tapi esensinya sama. Pemberian prioritas dan bobot pada setiap pertimbangan yang dibuat membantunya menyelesaikan persoalan. Prioritas pada keluarga tidak lantas membuatnya kecewa telah menolak kesempatan bagus bekerja di Malaysia sebagai Pimpinan Perusahaan. Justru, prioritas inilah yang membebaskannya karena dirinya sudah lepas dari ambisi pribadi.

Pada dasarnya para bapak ini meski sudah lama sekali berkajang dalam berbagai pembuatan keputusan, kerapkali masih sering keliru, dibebani oleh kodratnya sendiri sebagai manusia dan tidak jarang jatuh dalam kesalahan. Tapi banyak juga pengalaman yang membahagiakan karena tools atau sarana yang telah dibuat Santo Ignasius (Discerment of Spirit) itu sangat membantu menimbang berbagai masalah hingga terjadilah sebuah keputusan. Ya, hidup ini seolah on going discernment, selalu mencari kehendak Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four × 4 =