Avatar
Hello Guest!
0
Refleksiku Atas Retret Bareng Romo Sardi SJ
Agenda Kegiatan
Gabriel Abdi Susanto
March 26, 2018
0

KAMIS malam (22/3/18) itu Mas Narto WA saya bilang Romo menghendaki agar semua peserta mengikuti retret bertemakan Spiritualitas Jesuit Dalam Keseharian dari awal. Saya yang rencananya ingin datang hari Sabtu pagi dengan alasan khawatir kecapaian usai kerja di Jumat sore akhirnya memutuskan untuk datang Jumat sore. Bahkan akhirnya datang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan sekitar dua jam sebelum makan malam jam 19.00.

Di rumah doa Guadalupe itu gairah saya menyala. “Saya mau serius ikut retret,”pikirku. Saya bahkan ingatkan istri yang juga ikut retret agar benar-benar serius.

Sebenarnya sudah lama tidak retret serius seperti ini. Biasanya di akhir prapaskah tiga hari jelang Paskah saya dan istri ikut retret di Lembah Karmel. Ini pun retret yang sifatnya tidak Ignatian dan suasananya tidak hening. Jadi kali ini saya berniat tidak retret di Lembah Karmel. Saya pilih ikut retret pendalaman Spiritualitas Ignatian bersama Rm Sardi SJ saja.

Coba saya buka hati, mengikuti aturan yang ada dengan silentium. Membaca buku sebelum hari H meski belum selesai. Menonton film Ignacio dan mencoba mengingat-ingat lagi pelajaran yang diberikan Magister saya dulu di Novisiat, Romo Sarto Pandoyo SJ saat memberi kuliah tentang spiritualitas Jesuit. Juga memasang muka serius di kala silentium.

Usai retret, istri saya bilang,”serius banget sih.” Saya bilang, sikap ini membantu saya untuk mendisposisikan hati sehingga saya benar-benar bisa retret.

Saat retret, bahan yang begitu padat dan gaya Romo yang monoton rupanya nggak membuat saya bosan. Saya bahkan antusias bertanya dan sharing atau melontarkan pendapat juga pertanyaan.

Terus terang, saya heran kenapa saya begitu antusias, bergairah, dan semangat. Saya juga heran kenapa momennya juga pas. Retret berlangsung di kala disposisi batin saya sedang kacau, galau dan hidup spiritual saya nggak genah alias sembarangan.

Tentu saja pasnya waktu ini bukan karena saya janjian dengan Romo Sardi atau minta tolong Pak Winoto yang berkontak dengan Romo Sardi sehingga pas. Jadi, saya tidak tahu siapa yang membuat pas momen ini sehingga ada kesempatan untuk menata kembali disposisi batin dan hidup spiritual yang sudah nglokro. “Mumpung masih persiapan Paskah, batinku.” Roh Kudus pastinya yang bekerja di balik semua ini.

Belajar Rendah Hati
Buah-buah rohani yang saya dapat tentu saja merupakan poin penting yang menjadi ‘pekerjaan rumah’ saya untuk saya olah terus menerus. Buah-buah itu berupa peringatan bahwa sebagaimana Yesus telah merendahkan diri dan memberi teladan para murid (juga saya) dalam kisah pembasuhan kaki ( Yohanes 4:1-37), maka saya juga mesti berani merendahkan diri/hati.

Melalui permenungan percakapan Yesus dengan Perempuan Samaria, saya seolah diingatkan oleh Yesus bahwa selama ini saya masih memegang sesuatu yang tidak lebih berharga dibanding (air hidup) yang ditawarkan Yesus. Saya masih memegang erat gengsi, kehormatan (puja-puji), kemuliaan duniawi. Yesus seolah masih menunggu di sumur Yakub dan menanti saya melepas semua yang saya genggam erat itu. Dia menanti dengan sabar saya mengatakan “saya mau dan siap menerima air hidupMu.”

Batin saya lewat permenungan tentang panggilan pribadi (personal vocation) seolah mau bilang bahwa Tuhan sudah punya rencana yang sebenarnya sudah saya ketahui jauh hari sebelum retret. “Kamu harus membagikan hidupmu bagi orang lain,”kataNya. Hidup itu ya pengetahuan, kebijaksanaan, semangat, dan cara-cara hidup yang baik dan benar yang sudah saya dapat dan terapkan.

Pengalaman tiga hari dua malam di Rumah Doa Santa Maria Guadalupe telah menguatkan batin agar saya siap menjadi pribadi yang lepas bebas, berani direndahkan, tidak diperhitungkan dan rela bekerja dalam senyap. Karena Tuhan (Yesus) sudah mendahului melakukan hal itu (Kerendahan Hati Tingkat III). Mungkin aku belum bisa mencapainya tapi rupanya Roh Kudus telah mendorongku untuk mau memeluk keutamaan itu.

Secara komunal saya melihat gerak batin teman-teman dan istri begitu menggelora. Semoga api yang berkobar ini tetap menyala dan tidak padam. Semoga latihan tetap dilakukan setiap hari. Dan semoga lewat kelompok ini (Sesawi), kami bisa menerangi dunia, menjadi Yesus-yesus yang lain.

Catatan:
Dalam buku Latihan Rohani, St. Ignatius Loyola menyebutkan ada tiga macam kerendahan hati. Ketiga macam kerendahan hati tersebut adalah:

1. Kerendahan Hati Tingkat I. Kerendahan hati ini tercapai bila aku sudah menundukkan dan merendahkan diri sedapat mungkin sampai dalam segala hal aku taat kepada hukum Allah Tuhan. Sekalipun aku diangkat jadi tuan segala ciptaan di dunia ini, sekalipun nyawaku sendiri terancam, tak akan terjadi aku sampai mempertimbangkan mau melanggar satu perintah yang diwajibkan atas dosa-berat, entah dari Allah, entah dari manusia datangnya.

2. Kerendahan Hati Tingkat II. Lebih sempurna dari yang pertama, yakni bila aku sudah pada suatu taraf jiwa tertentu: sampai tak mencari-cari atau menginginkan kekayaan melebihi kemiskinan, tak menghendaki penghormatan melebihi penghinaan atau mengharapkan hidup panjang melebihi hidup pendek, asalkan semua itu sama artinya bagi pengabdian kepada Tuhan dan keselamatan jiwaku sendiri. Sekalipun aku akan diberi segala barang ciptaan atau ada bahaya aku akan kehilangan nyawa, tak akan terjadi aku sampai mempertimbangkan mau melakukan satu dosa ringan saja.

3. Kerendahan Hati Tingkat III. Paling sempurna. Setelah kerendahan hati I dan II tercapai, asalkan sama artinya bagi kehormatan dan kemuliaan Allah yang Mahaagung, supaya dapat meneladan dan lebih menyerupai Kristus Tuhan, aku menghendaki dan memilih kemiskinan bersama Kristus, yang miskin, melebihi kekayaan; penghinaan bersama Kristus yang dihina, melebihi penghormatan. Aku memilih dianggap bodoh dan gila demi Kristus yang lebih dahulu dianggap begitu, daripada dianggap pandai dan bijaksana di dunia ini.

Ketiga macam kerendahan hati ini merupakan sebuah peziarahan jiwa dalam mencapai sikap miskin di hadapan Allah, memusatkan hidup demi taat kepadaNya.

Dalam perjuangan untuk mencapai sikap rendah hati tersebut, St. Ignatius Loyola memberikan tuntunan dengan mengajak setiap pribadi merenungkan dan mengkontemplasikan misteri kehidupan Tuhan kita Yesus Kristus yang merendahkan diri keselamatan kita. Sebab sumber kerendahan hati adalah kasih Allah bagi manusia demi keselamatan manusia. Dan kita diajak untuk menanggapi kasih Allah itu dengan taat sepenuhnya pada Allah.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 5 =

Skip to toolbar