Avatar
Hello Guest!
0
Berbekal Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian”, Romo LA Sardi SJ Bimbing Retret Pengolahan Diri Sesawi
Agenda Kegiatan
Mathias Hariyadi
March 26, 2018
0

AWALNYA bermula dari dua kisah berbeda.

Pertengahan Juli 2017 telah terbit buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian (Yayasan Sesawi, 2017) karya Pater James Martin SJ. Buku ini menjadi best seller 2010 menurut koran beken The New York Times – tahun terbit edisi awal buku ini menurut edisi aslinya dalam bahasa Inggris.

Baru di tahun 2017, edisi bahasa  Indonesia dizinkan terbit oleh Pater James Martin SJ dan HarperCollins Publishers di New York setelah 10 tahun terbit edisi aslinya. Selama tiga tahun, sejumlah mantan Jesuit Indonesia  berjibaku menyiapkan produk edisi bahasa Indonesianya ini hingga akhirnya di pertengahan Juli 2017 edisi buku berbahasa Indonesia ini siap dirilis publik.

Itu baru kisah yang pertama.

Kisah kedua adalah frekuensi pertemuan yang sering terjadi antara Winoto Doeriat –doktor manajemen alumnus Harvard University di AS plus mantan Jesuit—dengan Romo Leo Agung Sardi SJ di Kolese St. Ignatius (Kolsani), Yogyakarta.  Dari seringnya bertemu muka dengan pastor Jesuit ahli Spiritualitas Ignatian (baca: Spiritualitas Yesuit) inilah, muncul gagasan tentang perlunya para mantan Jesuit Indonesia yang tergabung dalam tiga ‘lembaga’ berbeda (Yayasan Sesawi, Paguyuban Sesawi, dan Sesawi.Net) bisa mencecap kembali kekayaaan warisan tradisi Spiritualitas Yesuit.

Dari situlah lalu muncul program acara Retret Bimbingan Pengolahan Diri bersama Romo Leo Agung Sardi SJ untuk para mantan Jesuit Indonesia yang berkegiatan di tiga ‘organ’ besutan para mantan SJ Indonesia ini. Mereka ini sebenarnya orang-orang yang sama, namun dengan fokus perhatian berbeda-beda sesuai dengan kapasitas setiap penggiatnya dan bidang layanan yang mereka lakukan.

Singkat kata, sejak Juli 2017 telah dipersiapkan conditioning-nya baik oleh Romo LA Sardi SJ dan Winoto Doeriat (Ketua Pembina Yayasan Sesawi), maka akhirnya program Retret Bimbingan Pengolahan Diri bagi para anggota Sesawi ini berhasil dilaksanakan di Rumah Doa St. Maria Guadalupe di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, 23-25 Maret 2018.

Jangan sampai ketularan ‘jebling’

Di pengantarnya saat membuka Retret Pengembangan Diri Sesawi berbekal buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian (Yayasan Sesawi: James Martin, 2017), Romo Leo Sardi SJ memberi ilustrasi menarik. Doktor bidang Spiritualitas Yesuit ini bicara  tentang bagaimana ‘potret’ alam pikir Nostri (sebutan khas untuk para Jesuit oleh Jesuit) ketika memandang mereka yang sudah keluar meninggalkan Ordo Serikat Jesus (SJ) dan kemudian merintis ‘jalan hidup’ baru sebagai awam yang mantan Jesuit.

Mengutip ‘alam pikir’ para Jesuit tempo doeloe, demikian kata Romo LA Sardi, setiap orang yang sudah keluar meninggalkan SJ sebaiknya jangan lagi disapa, diajak bergaul akrab, dan kenal lagi. “”Nanti, kalian bisa kena ketularan ‘virus’ sama yakni keinginan jebling meninggalkan Serikat Jesus,” demikian kata Romo Sardi SJ mengutip omongan pastor SJ asal Jerman yang sudah meninggal dunia.

Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi bersama Romo Leo Agung Sardi SJ. (Mathias Hariyadi)

Alam pikir kuno dan sekarang

Tentu saja tentang paparan ilustrasi di atas itu harus diberi catatan penting.

Komentar yang dikutip itu bukan melulu ‘pendapat pribadi’ pastor Jesuit yang telah meninggal dunia. Melainkan, cara pikir  itu seakan sudah menjadi semacam ‘pendapat umum’ di kalangan Nostri bahwa mereka yang sudah keluar dari SJ sudah bukan lagi menjadi bagian “Inter Nos” (Antar Kita). Karena itu, sudah tidak relevan lagi bergaul akrab dan berkenalan dengan para mantan SJ tersebut.

Namun, itu dulu. Sekarang ini, ‘alam pikir’ kuno itu sudah mulai ditinggalkan.

Dalam kunjungannya ke Indonesia dan sempat bertemu dengan Winoto Doeriat di Universitas Sanata Dharma awal Juli 2017 lalu, Superior General SJ Pater Arturo Sosa SJ dengan amat jelas dan tegas kembali menekankan pentingnya setiap Jesuit merangkul kaum awam untuk diajak berkolaborasi.

Tandatangan Pater Jenderal Jesuit di 10 Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” Terbitan Perdana (3)

Pewarisan nilai Spiritualitas Ignatian

Gagasan tentang kolaborasi SJ dan kaum awam itu dikatakan oleh Pater Jenderal SJ di Yogyakarta.  Sebagai pakar manajemen, Winoto Doeriat langsung menyambar ‘ide besar’ itu untuk menggandeng SJ Provinsi Indonesia agar bersedia mengajak Sesawi (Sesama Sahabat Warga Sahabat Ignatian; bukan biji sesawi) untuk sebuah program ‘pewarisan nilai’.

Dan program pewarisan nilai itu sebenarnya sudah mulai dilakukan oleh Yayasan Sesawi dengan terbitnya buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian karya Paters James Martin SJ.

Yang ingin diwariskan tentu saja adalah tradisi exercitia spiritualita atau program-program latihan-latihan rohani.

Buku James Martin SJ itu bicara tentang ‘jatidiri’ identitas Jesuit dari perspektif spiritualitasnya –semacam ‘roh’ utama yang menjiwai dan menggerakkan para Jesuit sehingga masing-masing bisa ‘menjadi seperti itu’ dan berbeda dengan para imam dari tarekat religius lain dan para imam diosesan (praja).

Program atau kegiatan yang sifatnya kognitif akan pengenalan ‘jatidiri’ akan alam pikir (baca: Spiritualitas Ignatian) itu sekarang ini sudah semakin menjamur di banyak kota.  Bersama pastor Jesuit di beberapa kota itu, ada begitu banyak awam Katolik yang merasa tertarik akan ‘jatidiri’ Jesuit dengan Spiritualitas Ignatian-nya dan kemudian menggelar beberapa kursus tentang identitas Jesuit ini.

Merintis kolaborasi

Program Retret Bimbingan Tiga Hari –karenanya disebut Triduum (artinya tiga hari)—bersama Romo Leo Agung Sardi SJ ini juga dirancang sebagai embrio untuk menggerakkan  Sesawi ikut berpartisipasi dalam program-program pembinaan kaum awam tentang ‘jatidiri’ Jesuit.

Tentu, Sesawi harus berterima kasih kepada Ordo Serikat Jesus Provinsi Indonesia c.q. Pater Provinsial Petrus Sunu Hardiyanto SJ yang secara khusus menugaskan Romo Leo Agung Sardi SJ ini menginisiasi program kolaborasi rintisan bersama SJ-Sesawi.

Romo Sardi SJ sudah mengawali langkah pertamanya  dengan sukacita.

Pastor asal Paroki Klepu DIY telah memberi pengantar yang sangat baik di buku Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian.  Itu dia lakukan guna mengeksekusi  tugas khusus yang diberikan kepadanya oleh Romo Provinsial SJ.

Retret Bimbinan Pengolahan Pribadi bersama Sesawi  yang dia besut di Rumah Doa St. Maria Guadalupe di Duren Sawit, 23-25 Maret 2018 adalah langkah keduanya.  Langkah kedua rintisan ini  dilakukan guna menggerakan program  kegiatan bernama ‘kolaborasi’ SJ dan Sesawi ini.

KALAU, misalnya, harus merintis karya awal yang sifatnya berkolaborasi dengan kaum awam Katolik di Indonesia, lalu dengan siapa Ordo Serikat Yesus Provinsi Indonesia (Provindo) ini mesti mengawali langkah pertama untuk mengisi program bersama kolaboratif itu?

Itu adalah pertanyaan pancingan Romo Leo Agung Sardi SJ sebelum memulai Retret Bimbingan Pengolahan Diri Sesawi yang dia ampu di Rumah Doa St. Maria Guadalupe, Jakarta, 23-25 Maret 2018 ini.

Yang mau dikatakan sebenarnya adalah kisah latar belakang historis mengapa dirinya sampai melakukan program retret bimbingan selama tiga hari (triduum) untuk para anggota Sesawi itu.

Berbekal Buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian”, Romo LA Sardi SJ Bimbing Retret Pengolahan Diri Sesawi (1)

Demikian ini kisahnya.

Romo Leo Agung Sardi SJ, alumnus Seminari Mertoyudan angkatan tahun masuk 1982 dan mantan magister novis calon SJ di Girisonta, mengaku mengenal pertama kali istilah ‘Sesawi’ sejak tahun 2000-an, ketika perkumpulan Sahabat Sesama Warga Ignatian ini (dan bukan ‘biji sesawi’ atau ‘benih sesawi’) mulai pertama kali muncul di tahun-tahun pertamanya.

Simon Sugito membuka makan malam jelang program bina lanjut untuk Sesawi berbekal buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” bersama Romo Leo Agung Sardi SJ. (Mathias Hariyadi)

Romo Ignatius Haryoto SJ

Sesawi muncul sebagai respon atas desakan alm. Romo Ignatius Haryoto SJ–mantan magister novis SJ sangat kharismatis—yang menghendaki para alumni GS (Girisonta) itu sebaiknya masih saling berkomunikasi dan saling meneguhkan sesuai ‘karya’ mereka masing-masing sebagai awam Katolik.

Irwan Setiabudi, alumnus GS tahun 1981- merintis berdirinya Sesawi dengan awalnya kegiatan kumpul-kumpul bersama teman-teman angkatannya dan kemudian mulai ‘melembaga’ setelah beberapa kali ‘embrio Sesawi’ ini bertemu dengan almarhum Romo Ignatius Haryoto SJ.

Mengapa almarhum Romo Ignatius Haryoto SJ sedemikian ‘membekas’ di hati banyak alumni Novisiat SJ Girisonta?

Tentu jawabannya akan beragam. Namun, para mantan SJ hasil didikan almarhum biasanya akan mengatakan beberapa hal yang sama: model didikannya sangat ‘spartan’ (rigid, tegas, rigorous), disiplin diri ketat, dan tidak segan-segan menjadikan para novis itu mampu bekerja fisik ‘secara rodi’ di lapangan.

Itu antara lain sebagai berikut:

  • Para novis SJ waktu itu harus bisa mengikir batu besar dan melukis permukaan batu dengan aneka gambar ikon SJ.
  • Para novis harus bisa meratakan lapangan sepak bola hanya bermodalkan cangkul (bukan buldozer dan aneka alat berat lainnya).
  • Para novis harus bisa mengangkut batu-batu besar dari dataran rendah hanya dengan kekuatan tenaga manusia.
  • Belum layak disebut ‘novis SJ’ sejati dan ‘lulus’ pendidikan calon Jesuit, kalau belum berhasil naik Gunung Ungaran, berhasil tiba sampai di puncak gunung, dan bisa berhasil tiba selamat dan sehat ke Novisiat SJ.
  • Dan masih banyak lagi.

“Saudara terdekat”

Sesawi bagi Romo Leo Agung Sardi SJ layak disebut sebagai teman dan saudara terdekat para Jesuit Provindo.

Bukan karena sama-sama ‘orang Indonesia’, melainkan karena para anggota Sesawi itu –sama seperti para Jesuit lainnya—juga pernah mengalami tahapan formatio dengan protokol dan program pembinaan yang sama. Entah itu di Novisiat SJ Girisonta, Kolese Hermanum – STF Driyarkara Jakarta, dan Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta.

Dan yang paling fundamental, demikian kata Romo LA Sardi SJ, semua anggota Sesawi dan SJ itu sama-sama pernah mengalami Retret Agung Latihan Rohani 30 hari di Novisiat SJ Girisonta.

“Itulah yang menyatukan kita sebagai ‘saudara’ dan teman dekat,” ungkap doktor ahli Spiritualitas Ignatian (Spiritualitas Yesuit) ini di awal Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi di Jakarta, 23-25 Maret 2018.

Karena itu, Romo Leo Agung Sardi SJ lalu menyediakan diri waktu khusus selama tiga hari di awal Pekan Suci 2018 untuk Sesawi.

Untuk Nostri

Setelah selesai tugas sebagai magister novis calon SJ di Girisonta, Romo  Leo Agung Sardi SJ ditugasi belajar Spiritualitas Yesuit oleh Provinsial SJ waktu itu –Romo Rio Mursanto SJ—di Spanyol dan akhirnya lulus dengan predikat doktor di Negeri Matador ini. Usai studi, pastor asal Paroki Klepu DIY ini dibenum (ditugaskan) di Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta sebagai spiritualis dan sekaligus promotor Spiritualitas Ignatian bagi para Jesuit Provinsi Indonesia melalui program retret bimbingan untuk para Jesuit Indonesia.

Ia mengaku ‘tutup mata’ dan langsung mengiyakan setiap kali ditugaskan Provindo untuk program-program formatio untuk kalangan internal. Dan karena waktunya sudah sangat tersita untuk menyiapkan materi program-program bimbingan dan pembinaan untuk Nostri ini, Romo Sardi merasa ‘tidak terkutik’ lagi untuk menyediakan waktu lagi guna keperluan yang sama untuk para religius lain.

Ketika ajakan ditawarkan oleh Winoto Doeriat akan program pembinaan bagi Sesawi, Romo Leo Sardi mengaku tak bisa menolaknya. Apalagi secara khusus Provinsial SJ menugaskannya untuk merespon ajakan itu.

Nah, program Retret Bimbingan Pengolahan Diri untuk Sesawi berbekal buku “Spiritualitas Yesuit dalam Keseharian” selama tiga hari ini terjadi dalam konteks menciptakan kondisi untuk kerja kolaborasi antara SJ dan kaum awam Katolik yang kebetulan mantan SJ.

,

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 14 =

Skip to toolbar