KLB Campak dan Gizi Buruk di Kabupaten Asmat – Papua, Mengapa Keuskupan Agats Perlu Dibantu?

0
474

HARI-HARI ini, marak berita mengenai bencana Kondisi Luar Biasa (KLB) penyakit campak karena efek asupan gizi yang buruk telah melanda beberapa titik permukiman penduduk secara sporadis di wilayah Kabupaten Asmat, Papua.

Merespon situasi tersebut, Redaksi Sesawi.Net lalu mengontak jaringan kerja di Keuskupan Agats – Papua yakni:

  • Bapak Uskup Keuskupan Agats: Mgr. Aloysius Murwito OFM.
  • Pastor Kepala Gereja Salib Suci – Paroki Katedral Agats: Romo Bobby Harimapen OSC.
  • Fungsionaris pelayanan pastoral Keuskupan Agats: Sr. Aloysia OSU.
  • Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat: dr Steven Langi.
Gereja Salib Suci Paroki Katedral Keuskupan Agats, Papua. Foto dibuat di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

Dari jalinan komunikasi tersebut, diperoleh gambaran tentang perkembangan KLB dan bagaimana Keuskupan Agats akan terlibat merespon KLB Campak dan Gizi Buruk tersebut.

KLB itu telah menelan korban jiwa manusia sebanyak 63 anak meninggal dunia, 171 orang masih menjalani rawat inap, dan 393 lainnya tengah menjalani rawat jalan.

Keuskupan Agats kirim tim ke lapangan

Menurut Sr. Aloysia OSU -suster biarawati Ordo Ursulin yang bertahun-tahun lamanya sudah malang melintang dalam tiga kali tugas pengutusan di wilayah sulit ini— Keuskupan Agats akan mengirim beberapa tim menuju ke sejumlah titik dimana telah terjadi bencana kemanusiaan tersebut.

“Besok Rabu (18 Januari 2018) ini, beberapa tim akan berangkat ke lokasi.  Mereka akan tinggal di sana selama sepekan. Tugasnya adalah membawa barang-barang kebutuhan pokok, obat-obatan, dan lainnya,” terang suster biarawati Ursulin dari Bajawa di Flores, NTT.

Recharging dan enam bulan

Setelah sepekan berada di lokasi, demikian Sr. Aloysia OSU, maka tim-tim bentukan Keuskupan Agats ini akan pulang kembali ke ‘markas utama’ di Keuskupan Agats untuk recharging. “Itu perlu agar mereka bisa memulihkan tenaga, cuci-cuci baju dan kemudian bisa kembali lagi ke beberapa titik rawan KLB lainnya,” terang Sr. Aloysia OSU.

Tim-tim ini akan melaksanakan tugas misi kemanusiaan dengan sistem  pergi-pulang kurang lebih selama enam bulan ke depan.

Speedboat adalah moda transportasi andalan untuk bisa mencapai lokasi di wilayah pedalaman Keuskupan Agats. Inilah pemandangan dermaga di pusat kota Kabupaten Asmat – Keuskupan Agats untuk speedboat. (Mathias Hariyadi)
Tim kami bersiap meninggalkan pusat kota Asmat menuju Paroki Atsji di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)
Pemandangan indah di sebuah sungai kecil di Sagare di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

Titik-titik rawan KLB  itu terjadi di permukiman penduduk lokal Asmat di Pulau Tiga, Sawaerma, Suator, Akat, Sirets, Jetsy, Kolf, dan lainnya.

Jarak tempuh dari ‘pusat kota’ Kabupaten Asmat ini kurang lebih selama 3-4 jam perjalanan air dengan moda transportasi speedboat berkekuatan dua mesin masing-masing 48 PK.

Salah satu tim kami melaju kencang menyusuri aliran sungai nan lebar di tepian hutan dengan speedboat milik Keuskupan Agats. Tampak di foto ini adalah Hendra Kosasih, Sr. Sylvia KFS (berdiri dengan kerudung kepala), Mgr. Aloysius Murwito OFM di barisan depan kanan. Foto dibuat penulis di speedboat lain saat dalam perjalanan pulang dari Stas Sagare menuju Paroki Atsj di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

Misi pergi-pulang

Kebijakan mengirim tenaga ke titik-titik lokasi dengan sistem pergi-pulang kembali ‘ke markas’ ini ditempuh, mengingat  kondisi geografis wilayah Kabupaten Asmat yang sangat spesifik dan unik sebagai berikut:

  • Sangat terisolir: lokasinya ada di “in the middle of nowhere”.
  • Siapa pun harus punya stamina fisik kuat dan harus mampu tahan banting dan berani menempuh perjalanan jauh dengan moda transportasi speedboat berkekuatan 48 PK bermesin ganda  sebagai keharusan agar kalau satu mesin mati, masih ada mesin cadangan.
  • Tingginya risiko bahaya mengalami kesulitan dalam perjalanan seperti kehabisan BBM, tersesat di hutan bakau atau terdampar di perairan sungai dengan lebar 500-1.000 m sehingga pemandangan mata pun tidak akan mampu ‘selesai’ menengok di balik batas horizon.
  • Minimnya fasilitas publik yang tersedia di sepanjang aliran sungai, termasuk tidak adanya “SPBU” yang menjual solar bahan bakar mesin diesel untuk speedboat.
  • Sudah menjadi SOP baku di Keuskupan Agats, setiap motoris wajib mengisi tanki BBM speedboat-nya secara full tank sebelum melaju berlayar mengarungi perairan sungai yang luas dan panjangnya ‘mengalir tak terbatas sampai jauh’. Jangan sampai terjadi di pedalaman tiba-tiba mesin speedboat mati karena habis BBM.
Mengunjungi pedalaman Kabupaten Asmat – Keuskupan Agats dengan menggunakan moda transportasi speedboat dengan  menyusuri aliran sungai dan melewati hutan belantara. Foto dibuat saat kami berpapasan dengan speedboat lain  di sebuah aliran sungai dari Yaosakor menuju Sawaerma. Foto dibuat di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)
  • Bila terjadi demikian, maka hal ini merupakan malapetaka serius. Ini karena speedboat itu bisa hanyut terbawa ombak. Atau, penumpang harus rela menunggu datangnya bantuan dari speedboat lain yang kebetulan tengah lewat di jalur sama. Namun, semua harus menyadari risiko bisa berhari-hari menunggu bantuan lantaran di jalur itu terjadi ‘putus komunikasi’ karena sinyal HP sering tidak ada sama sekali.
  • Sinyal telepon di pedalaman tidak ada; bahkan di ‘pusat kota’ Kabupaten Asmat pun sering tidak ada.
  • Listrik PLN tidak ada; bahkan di pusat kota pun nyala listrik PLN juga sangat terbatas.
  • Wilayah Kabupaten Asmat dan wilayah Keuskupan Agats rata-rata berdiri di atas hamparan lumpur, bukan tanah. Tidak ada pasir di sini. Karena itu, Agats-Asmat sering disebut dengan nama “Kota di atas Papan”
Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM berjalan menyusuri jalan papan di kompleks Wisma Keuskupan sesaat sebelum memimpin Perayaan Ekaristi harian di pagi hari bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)
Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM berjalan di atas jalan papan usai misa pagi di Kapel Wisma Keuskupan Agats di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

Blusukan bersama Uskup

Jalan di atas papan di sebuah lokasi pedalaman di sekitar Bandara Ewer. Bandara ini ditempuh dalam waktu pelayaran sekitar 30 menit naik perahu motor dari pusat kota Kabupaten Asmat – Keuskupan Agats. (Mathias Hariyadi)

Sesawi.Net dan AsiaNews bersama sebuah kelompok peduli kemanusiaan asal Jakarta punya pengalaman pernah ikut pergi blusukan bersama Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM menjelajah pedalaman Kabupaten Asmat. Perjalanan ke beberapa titik permukiman penduduk Asmat di wilayah pedalaman ini memanfaatan aliran sungai dengan moda transportasi speedboat.

Perjalanan blusukan ke kawasan pedalaman Kabupaten Asmat – Keuskupan Agats di Papua  ini terjadi kurun waktu tanggal 16-27 Juni 2013.

Ikut dalam rombongan blusukan nekat itu adalah Sr. Sylvia KFS asal Pontianak, Kalbar. Waktu itu, Sr. Sylvia KFS menjabat Suster Provinsial Kongregasi Suster-suster Fransiskanes Sambas (KFS) di Pontianak, Kalbar.

Ongkos perjalanan luar biasa mahal

Rombongan kami blusukan ke pedalaman Kabupatane Asmat dengan menggunakan dua speedboat. Adalah Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM ini sendiri yang memimpin rombongan kecil ini. Kami menyambangi  Paroki Atsj yang punya waktu tempuh selama hampir empat jam perjalanan air dari ‘Ibukota” Kabupaten Asmat.

Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM di Stasi Sagare. Lokasi stasi ini terbilang paling jauh dari pusat kota karena butuh waktu perjalanan naik speedboat selama empat jam dari Paroki Atsj; Paroki Atsj sendiri baru bisa dicapai setelah empat jam naik speedboat dari Ibukota Kabupaten Asmat – Wisma Keuskupan Agats. (Mathias Hariyadi)

Dari Paroki Atsj yang langsung berbatasan dengan Laut Arafuru ini, tim kecil pimpinan  Mgr. Aloysius Murwito ini lalu pergi menyambangi Stasi Sagare (masih perlu waktu empat jam perjalanan lagi dengan speedboat menembus hutan belantara), Stasi Yaosakor (dua jam), dan Stasi Sawaerma (dua jam).

Kondisi medan pelayanan yang sulit, penuh risiko, tapi  menantang jiwa petualangan ini selalu menjadikan setiap trip menuju titik-titik lokasi itu sangat mahal. Biaya tinggi terjadi untuk konsumsi membeli BBM.

Itu baru biaya transportasi lokal di Kabupaten Asmat saja. Padahal, rombongan kami itu berasal dari Jakarta dan Pontianak. Maka, rute trip yang mesti kami tempuh ke pedalaman Kabupaten Asmat di Papua di bulan Juni 2013 itu sebagai berikut:

  • Penerbangan langsung Jakarta – Timika atau Jakarta ke Timika dengan transit di Makassar.
  • Penerbangan langsung dari Timika ke Bandara Ewer di Kabupaten Asmat dengan pesawat ultra light jenis Pilatus buatan Swiss milik Associated Mission Aviation (AMA) dengan syarat: beban keseluruhan bagasi penumpang tidak boleh melebihi 800 kg, jumlah penumpang maksimal 8 orang.
Awan membentuk formasi seperti bola-bola kapas di langit Timika. Sementara, di bawah adalah pemandangan aliran sungai baik yang masih ‘perawan’ maupun sudah tercermar limbah tailing di bawah langit Timika. Ini kami lihat selama  dalam penerbangan menuju Agats di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)
Pemandangan alam dari langit dalam penerbangan dari Timika menuju Bandara Ewer di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)
Aliran sungai baik yang masih bersih dan yang sudah tercemar limbah industri pertambangan (tailing) adalah pemandangan di bawah pesawat Pilatus yang membawa kami dari Timika menuju Ewer. (Mathias Hariyadi)
  • Opsi lain adalah naik kapal feri dari Pelabuhan Timika ke Agats dengan lama perjalanan selama 10 jam. Namun, frekuensi pelayaran kapal ini tidak banyak.
  • Pesawat ‘capung’ jenis Pilatus dari Timika itu akan mendarat di airstrip ‘apa adanya’ Bandara Ewer.
Naik pesawat capung jenis Pilatus buatan Swiss milik Associated Mission Aviation (AMA) dari Bandara Internasional Moses Kilangin di Timika menuju Bandara Ewer. (Mathias Hariyadi)
Suasana serba sempit di dalam ‘kabin’ pesawat baling-baling ultra light jenis Pilatus yang menerbangkan kami dari Timika menuju Ewer. Tampak dalam foto buatan bulan Juni 2013 ini adalah Suster Provinsial Kongregasi Suster-suster Fransiskanes dari Sambas (KFS) Sr. Sylvia KFS dan Mgr. Aloysius Murwito OFM yang bertopi. Mereka duduk di bangku baris ketiga di belakang penulis yang duduk bangku baris kedua. Bangku baris pertama menjadi tempat duduk pilot dan seorang penumpang lain. (Mathias Hariyadi)
  • Kami sebut ‘apa adanya’, karena landasan pendaratan dan pacu ini hanyalah tanah keras berumput dan sebagian berlapis baja di ujung landasan.
  • Dari Bandara Ewer yang letaknya di pedalaman ini, kita masih harus naik perahu atau speedboat selama kurang lebih 30 menit menuju ‘pusat kota’ Kabupaten Asmat.
  • Dari ‘Ibukota” Kabupaten Asmat inilah, perjalanan bisa dilanjutkan ke titik-titik lokasi di pedalaman.
Pesawat AMA mendarat di Bandara Ewer Agats difoto dari udara dan kondisi riil di lapangan. Foto dibuat di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

Mengapa perlu membantu Keuskupan Agats? 

Melihat peta situasi geografis yang sangat menantang dan apalagi setiap trip ke pedalaman Kabupaten Asmat ini selalu membutuhkan biaya sangat tinggi, maka Redaksi Sesawi.Net bekerjasama dengan Yayasan Sesawi mengambil prakarsa ini.

Keinginan kami adalah bisa menggalang dana kemanusiaan guna merespon situasi KLB Campak dan Gizi Buruk tersebut untuk  kemudian bisa disalurkan kepada Keuskupan Agats di Papua.

Yayasan Sesawi adalah lembaga nirlaba yang dikelola oleh para mantan Jesuit Indonesia.

Redaksi Sesawi.Net dan Yayasan Sesawi merasa terpanggil untuk membantu Keuskupan Agats agar bisa melaksanakan misinya dalam aksi kemanusiaan seperti sudah kami jelaskan di atas.

Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM saat misa di Stasi Sagare –lokasi permukiman umat katolik terjauh dari ‘pusat kota’. (Mathias Hariyadi)

Bantuan finansial dari para pembaca Sesawi.Net dimana pun berada akan sangat berguna bisa memfasilitasi prakarsa Keuskupan Agats melaksanakan misi kemanusiaan yakni mengirim tim-tim relawan menuju titik-titik lokasi KLB di pedalaman Kabupaten Asmat.

Prosedur donasi amal  dan mekanisme kerja 

Redaksi Sesawi.Net bersama Yayasan Sesawi yang dibesut oleh para mantan Jesuit Indonesia ingin mengatur manajemen prosedur donasi amal kemanusiaan sebagai berikut.

Semua ini dibuat demi terjaminnya tertib administrasi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

  • Salurkan bantuan donasi Anda melalui rekening Yayasan Sesawi di Bank Mandiri KCP JKT Pahlawan Revolusi
  • Norek:  166 00 0900088 6 a.n. Yayasan Sesawi.
  • Subjek berita: Agats Asmat.
  • Demi memudahkan identifikasi donasi, kami imbau para donatur selalu menambahi satu digit, misalnya, Rp 1.000.001 atau Rp 10.000.001.
  • Kami akan mencatat penerimaan donasi lengkap dengan nama lengkap donatur.
  • Bila Anda tidak ingin nama Anda akan muncul di laporan, maka berilah catatan sebagai NN saja.
  • Notifikasi: Kirimkan bukti transfer donasi itu ke:

Bantuan terukur dan transparansi

Kami membuka dompet kemanusiaan amal untuk Keuskupan Agats ini selama 30 hari ke depan; mulai tanggal 18 Januari 2018 sd 18 Februari 2018.

Bilamana dirasa masih perlu, maka program donasi amal untuk Keuskupan Agats ini bisa kami buka untuk tahapan berikutnya selama 30 hari lagi.

Kami akan mentransferkan donasi Bapak-Ibu sekalian ke Rekening resmi Keuskupan Agats di:

  • BRI Cabang Timika Unit Asmat a.n. Karitas Keuskupan.
  • Norek 4977 01 016573 5x x.

 Transfer ini akan kami lakukan setiap 10 hari kurun waktu donasi.

Laporan pertanggunganjawab donasi dan transfer donasi ke Keuskupan Agats akan dilakukan oleh Bendahara Yayasan Sesawi dan paparan itu akan kami tayangkan melalui www.sesawi.net.

Informasi detil atau pertanyaan mengenai program bantuan kemanusiaan untuk Keuskupan Agats ini bisa dilakukan dengan mengirim notifikasi kepada Redaksi Sesawi.Net di portalsesawi@gmail.com. 

PS: 

  • Nama resmi wilayah gerejani adalah Keuskupan Agats.
  • Nama resmi wilayah adminitrasi pemerintahan adalah Kabupaten Asmat.
Anak-anak Asmat di Bandara Ewer saat di bulan Juni 2013. (Mathias Hariyadi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 4 =