Avatar
Hello Guest!
0
Katolik di Cina Tak Lepas dari Peran Santo Fransiskus Xaverius
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
December 1, 2018
0
Katedral ShangHai/ Foto :Asmi

PERJALANAN ke China beberapa waktu lalu (16 – 25 November 2018) dimana kami sempat bergabung dalam misa bersama dengan umat setempat di Gereja St. Theresia di Guilin (18 Nov) serta mengunjungi Katedral St. Ignatius di Shanghai (24 Nov), membuka babak baru dalam perjalanan wawasan dan iman saya.

Patung Santo Ignatius

Sambil terus berdoa untuk perkembangan Gereja Katolik di Cina, saya bolak balik halaman-halaman buku mengenai sejarah kekatolikan di Cina. Ternyata, saya menemukan satu hal, kita tak akan pernah bisa melepaskan diri dari kepeloporan seorang Imam Jesuit, St. Fransiskus Xaverius (1506 – 1552) yang sebentar lagi kita peringati (3 Des) dan seorang Jesuit lain yang paling berhasil dalam misinya yakni St. Matteo Ricci (1552 – 1610).

Memegang Patung Santo Fransiskus Xaverius

Bayangkan kalau dalam pemberontakan Boxers di China (antara Nov 1899 – Sep 1901) ada sekitar 30 ribu orang Katolik dibunuh ! Boxers yang antiasing, antiimperialis dengan semboyan “Dukung Qing dan Hancurkan Barat”. Protokol Boxer mengakhiri pemberontakan yang keji di tanggal 7 Sep 1901 dan Dinasti Qing sendiri jatuh di tahun 1911.

Saat ini Gereja memiliki 87 Martir yang telah dibeatifikasi. Sebagai bagian dari warga dunia yang Universal, marilah kita berdoa bagi perkembangan umat katolik di sana dan semoga Gereja di sana senantiasa berwajah penuh kedamaian dan selalu mengusahakan kebaikan bagi sesama dan siapa saja di tengah Pemerintahan Komunis yang juga memberikan kesempatan untuk beribadah bagi jemaatnya, meski tetap dalam kontrolnya. 

Guilin

Sempat hari minggu (18 Nov 2019) ke Gereja St. Theresia di Guilin. Gereja di Cina INI unik sekali. Ada gereja bawah tanah, yang afiliasi ke Vatikan tapi tak mau diatur pemerintah dan Gereja afiliasi Vatikan juga tapi pemerintah ikut campur tangan.

Sejak 1949 para missionaris diusir. 1951 Cina memutuskan hubungan dengan Tahta Suci Vatikan. Relasi yang kurang baik selama puluhan tahun dan sangat sulit diperbaiki.
23 September 2018 kemarin, Paus Fransiskus mengakui 7 uskup yang dipilih Pemerintah.

Paus Fransiskus ingin hubungan yang lebih baik dengan Cina, tapi ini agaknya mengecewakan Gereja Bawah Tanah tadi. Semoga ada titik temu yang baik antara Gereja Bawah Tanah dan Gereja-gereja yang diakui Pemerintah.

Asmi, Erni, Ian (keempat dari kiri)

saya melihat anak-anak kecil di gereja, benar-benar melihat masa depan Gereja Cina. Saya benar-benar merasakan sebagai bagian dari Gereja Kristen Katolik Universal. Gereja Universal yang perlu terus menerus didoakan dan diwujudkan dalam karya nyata. Amin

Ingatanku langsung terarah pada St. Fransiskus Xaverius yang menjadi pelopor awal misi di Cina, meski dia hanya sampai pintu di gerbang Cina, wafat di Pulau San Cian. Ingat juga Matteo Ricci missionaris sukses di Cina, sangat genius dalam banyak hal, satu-satunya missionaris yang boleh dimakamkan di makam Kerajaan di Beijing. Ingin aku berziarah ke makamnya. Semoga suatu hari.

Read more
Korea dari Kacamata Seorang Peziarah
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
November 7, 2018
0

Dari Osaka Jepang, peziarah melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan, dengan Korean Air kurang lebih 1.5 jam perjalanan. Mendengar kata Korea, barangkali yang pertama tama kita pikirkan adalah budaya K-Pop yang sedang melanda dunia melalui film-filmnya atau pun musiknya. Atau barangkali seorang Julia Kim, yang pada waktu yang lalu mendapatkan pengalaman-pengalaman “rohani” yang menghebohkan, namun saat ini para peziarah dilarang untuk pergi ke sana oleh otoritas Keuskupan setempat. Maka sebaiknya kita mengikuti aturan Gereja setempat (sentire sum ecclesia).

Tidak dua-duanya. Peziarah dan anggota kelompoknya memusatkan perhatian pada para martir di Korea, maka tujuan utama ke sana adalah tempat-tempat yang berkaitan dengan hal itu, diantaranya : Saenamteo, Mirinae Martyr Shrine dan Jeoldusan Martyr Shrine. Ketiga tempat itu berkaitan dengan Kemartiran dari 103 Santo Korea (93 martir asli orang Korea dan 10 martir missionaris dari Perancis).

Saenamteo

Peziarah berkesempatan mengikuti perayaan Ekaristi di sini. Perasaan haru biru terasakan selama mengikuti perayaan Ekaristi di sini. Dalam situasi itu, peziarah hanya bisa tertunduk pilu dan diam, turut merasakan penderitaan yg diderita oleh para martir yang dibunuh di tempat ini. Seusai Misa kami ke Museum para martir, diantaranya melihat alat2 penderaan dan juga rekonstruksi penderitaan mereka sampai mereka dipenggal kepalanya. Sungguh miris dan memilukan.

Saenamteo berada di antara sungai Han dan benteng kuno sebelah selatan Seoul. Di awal dinasti Yi, tempat ini digunakan sebagai basis pelatihan militer dan tempat eksekusi mati bagi para penjahat besar.

Selama 4 periode pokok penganiayaan orang2 Katolik Korea (disebut periode Shin-Yu 1801, Gi-Hae 1839, Byeong-oh 1846 dan Byeoung-in 1866) banyak imam2 dan orang awam memberikan pengakuan iman mereka melalui tumpahan darah mereka di tempat ini. Di antara mereka di tahun 1801, Imam Cina yg bernama Mum-Mo Ju, Imam Katolik pertama di Korea dan di tahun 1846, Romo Andreas Kim Dae-Geon (Kim Tae- Gon), imam pertama asli korea. Sebelas martir dari sini dikanonisasi menjadi Santo, menambah kemuliaan dan hormat kepada tempat suci ini.

Ada 14 Martir yg dibunuh di tempat ini (2 Uskup, 9 Imam termasuk Romo Kim Tae-Gon dan 3 awam). Gereja Saenamteo layak mendapatkan sebutan Tempat Kudus Para Martir (di tahun 1950) maupun Monumen Para Martir Katolik ( di tahun 1956).

Mengenal hidup singkat Romo Andreas Kim Tae-Gon (1821 – 1846 / 25 tahun)

Kim Dae-Geon / Kim Tae-Gon

Imam dan Santo Korea Pertama. Tak diragukan bahwa dia adalah Santo yang paling terkenal di antara semua martir Korea. Dilahirkan 21 Agustus 1821 di desa Tang Jin, Ayahnya juga menjadi seorang martir dan menjadi salah seorang Santo juga. Dia dipilih sebagai penerima bea siswa seorang Imam dari Perancis untuk belajar di Macau th 1837. Dia di tahbisan Imam di Shanghai di usia 24 tahun, 17 Agustus 1845. Dia kembali ke Korea namun kemudian dia ditangkap, dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya sebagai martir 16 September 1846, di usia 25 tahun saat dinasti Byeung-oh berkuasa. Dia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI, 5 Juli 1925 dan dikanonisasi menjadi Santo oleh Paus Yohanes Paulus II di Korea Selatan, 6 Mei 1984.

Mirinae Martyr Shrine (Tempat Suci Para Martir)

Berada di Di Anseong, Gyeonggi-do, kurang lebih 2 jam perjalanan dari Seoul mengarah ke Barat Daya.

Alasan mengapa di sebut Mirinae yang berarti Bimasakti / Bintang2 yang bertebaran di langit, karena orang Katolik Korea datang ke sini diam2 untuk menghindari penganiayaan selama dinasti Jeseon, dan lampu2 yang bercahaya yang datang dari rumah2 penduduk, cahayanya seperti taburan bintang2 di angkasa.

Romo Kim dipenggal kepalanya di usia 25 tahun dan tidak diijinkan untuk dikuburkan. Tetapi 40 hari kemudian Vincentius Lee Minsik dapat mencuri tubuh Romo Kim, tentunya dengan kesulitan besar, dan kemudian membawanya dengan digendong menempuh perjalanan sekitar 2 minggu sampai ke Mirinae ini, kemudian dia menguburkannya di sini.
Di sini kita akan mendapati makam St. Andreas Kim Dae-Geon, Santo imam Korea pertama, ibunya Ursula dan Uskup Ferreol dan juga Vincentius Lee Minsik, yang menguburkan tubuh St. Andreas Kim Dae-Geong di sini. Sangat terasa bawa tempat di sini sangat hening dan damai.

Jeoldusan Martyrs Shrine

Lokasi di pinggir Sungai Han. Tempat para martir Korea dibunuh di sini. Tepatnya ada 13 Martir yang disiksa dan dipenggal kepalanya lalu dihanyutkan di Sungai Han selama masa penganiayaan Dinasti Byeong-in 1866. Dari 13 Martir tersebut, 9 imam berasal dari Perancis.

Gereja ini dibangun untuk mengenangkan 100 tahun penganiayaan Dinasti Byeong-in dan untuk mengingat roh Kemartiran di Jeoldusan ini.

3 Mei 1984 JP II berkunjung ke sini, untuk menghormati para martir. Kunjungan beliau berkaitan dengan ulang tahun 200 tahun kekatolikan di tanah Korea. Satu tahun kemudian 1985 Ibu Teresa datang juga ke tempat ini.

Penutup
Korea yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa, 10 juta jiwa bermukim di Seoul. Sebagian terbesar beragama Kristen (Protestant dan Katolik) dihadapkan pada dua buah masalah besar. Tingginya angka bunuh diri dan tingginya angka pengguguran kandungan. Menjadi tugas Gereja yang tidak mudah, untuk menekan angka angka ini. Semoga dari waktu ke waktu, teladan iman para martir Korea, mampu menyadarkan generasi muda mereka untuk menghargai kehidupan manusia, anugerah dari Tuhan sendiri, untuk kita syukuri, dalam keadaan bagaimana pun juga. Para kudus martir dari Korea, doakanlah kami.

FAA

Read more
Mari Berdonasi untuk Pendidikan Para Calon Pastor
Agenda Kegiatan
Asmi Arijanto
November 7, 2018
0

Sahabat-sahabat Kristiani di mana saja berada

Salam sejahtera untuk kita semua,

Syukur kepada Tuhan untuk berkat dan perlindunganNya, sehingga sampai hari ini kita masih diperkenankan menikmati rahmatNya melalui hidup kita sehari hari.

Kami hendak menginformasikan bahwa YAYASAN SESAWI (yang dikelola oleh sahabat-sahabat mantan Jesuit) mencoba mengetuk hati Bapak / Ibu / Saudara / Saudari yang budiman untuk mohon dukungan dan memberikan perhatian serta turut ambil bagian dalam pendidikan dan pembinaan calon Imam, khususnya di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang dan Ketapang.

Sedikit gambaran mengenai keadaan siswa di Seminari Menengah Mertoyudan seperti yang dilaporkan oleh Romo Drajat Soesilo sebagai Romo Minister kepada kita sebagai berikut :

Jumlah Siswa Seminari Tahun ajaran 2018 / 2019 : 245 siswa.
Mereka berasal dari 4 keuskupan besar : KAS – 144 siswa, KAJ – 44 siswa, Bandung – 13 siswa dan Purwokerto – 9 siswa dan beberapa keuskupan lain – 35 siswa.

Standar hidup di asrama dan pendidikan formal per siswa per bulan : Rp. 1.950.000,-
Kemampuan orang tua siswa, paroki atau donatur per siswa tiap bulan rata-rata berkisar : Rp. 1.744.000,- sehingga tiap bulan ada kekurangan biaya standard total sebesar Rp. 50.470.000,- untuk menutupi kekurangan tersebut, perlu dicari dana.

Seminari sangat mengharapkan uluran tangan dari berbagai pihak entah donatur atau gereja dimana saja supaya para pendidik dapat lebih fokus memperhatikan segi pendidikan formatio dan pembinaan seminaris sebagai calon Imam di masa mendatang.

Nah mari kita sebagai sahabat Kristiani peduli akan kelangsungan Gereja ke depan, dengan turut ambil bagian dalam membantu pendidikan dan pembinaan calon Imam.

Jangan segan berbagi, karena “dengan berbagi sesungguhnya kita menerima.”
(St. Fransiskus Assisi)

Dana solidaritas bisa ditransfer ke :
Yayasan Sesawi
Rekening Mandiri :
166-00-0900088-6
KCP JKT. Pahlawan Revolusi

Sesudah melakukan transfer, mohon info whatapp ke Pak Yayang (Bendahara Yayasan Sesawi) di nomor Hp. 0816.4842399, supaya bisa dicek dan dana bisa dialokasikan sesuai maksud dan tujuannya.

Terimakasih,
FA. Arijanto
Dupang (Dukung Panggilan) Yayasan Sesawi

Read more
Diakon di Bekasi, Menghayati Asas dan Dasar Latihan Rohani St Ignatius
Agenda Kegiatan
Simon Sugito
September 1, 2018
0

Dialog Konteplatif Sesawi, Bekasi – 22 Agustus 2018

Untuk ketigakalinya, Paguyuban Sesawi mengadakan dialog kontemplatif (Diakon) sebagai komitmen bersama dalam menghidupi semangat Ignasian. Pertemuan di Jakarta sudah disarikan sharingnya oleh Abdi Susanto. Tulisan ini merupakan sari dari pertemuan di Bekasi di rumah Mas Dio/Mb Ina.

BACA JUGA : Kalau Tuhan Sudah Berkehendak

Manusia diciptakan untukmemuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya.Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.

Bagaimana asas dan dasar tersebut nyata dihayati dalam kehidupan keseharian sesawier?

Di kelompok Bekasi hadir 5 sesawier yaitu saya sendiri (Simon Sugito), Anjar, Koh Agung dan Dian, Damar serta tuan rumah Dio dan Ina. Acara dibuka Dio dengan menjelaskan kembali secara ringkas apa itu dialog kontemplatif dan urutan tata caranya. Dialog kontemplatif ini diperkenalkan kepada Sesawi oleh Romo Leo Agung Sardi, SJ pada saat memberikan pendalaman spiritualitas Ignatian di Klender Bulan Maret. Penjelasan singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada Anjar yang baru pertama kali ikut diakon. Selain itu juga sebagai pengingat bagi peserta lain.

Dian memulai sharing dengan pergulatan mengelola kantin dengan jam kerja yang kenal waktu. Bangun pagi-pagi untuk siapakan masakan sampai sore membereskan alat. Di malam hari harus kembali mikirin masakan apa yang akan disajikan besok.

Belum lagi beberapa pelanggan yang memesan masakan dengan porsi kecil tapi sangat menguras waktu persiapan. Di tengah rutinitas yang membosankan itu, Dian bertanya apa arti semua ini? Apa hubungannya dengan memuliakan Tuhan.

Dian pun bersyukur karena kantinnya menyediakan makanan dengan harga terjangkau pelanggan utamanya untuk karyawan berpenghasilan pas-pasan seperti cleaning service, satpam yang sering terlihat senang dan puas dengan makanan di kantinnya. “Mungin itu cara saya memahami bagaimana saya memuliakan Tuhan dalam pekerjaan saya..”

Sementara Damar bercerita tentang pergulatannya menghadapi atasan sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tidak mudah memaknai lepas bebas bila dikaitkan dengan pengelolaan emosi. Bagaimana harus menjalankan tugas-tugas yang diberikan atasan padahal tidak sesuai jabatannya. Di situ, Damar merasa bahwa pekerjaannya merupakan berkat. Saat kita fokus pada apa yang tidak mengenakkan, kita sulit berkembang. Namun ketika fokus pada peluang-peluang yang ada, di situlah letak kualitas kita sebagai manusia latihan rohani yang memahami asas dan dasar.

Dio melanjutkan sharing dengan bercerita tentang pergulatannya menerima keputusan kaprodi IKJ yang mengurangi mata kuliah yang ia ampu. Padahal mata kuliah itu dulu ia tolak. Di sini dia belajar bagaimana melihat tujuan besar dari institusinya melalui keputusan kaprodi. Kecintaannya pada subyek mata kuliah tersebut bisa jadi menjadi contoh kelekatan tak teratur. Walau berat, Dio taat pada keputusan institusi.

Ina, istri Dio melanjutkan cerita bagaimana dirinya memahami batas rasa rela dan tidak rela melepaskan putranya semata wayang menjadi frater OFM Cap. Sebagai ibu, dirinya sebenarnya sadar bahwa puteranya sudah cukup dewasa memutuskan pilihan hidupnya. Namun karena dirinya seorang ibu jugalah ia masih sering ingin diyakinkan keputusan yang diambil puteranya itu. Banyak hal yang belum ia pahami dengan arti sebuah panggilan. Namun, akhirnya Ina harus menyerahkan segalanya pada Tuhan yang selama ini ia imani.

Koh Agung yang biasanya banyak cerita juga menyampaikan betapa selama ini ia kerap kali tidak disukai orang karena sikapnya yang taat aturan hingga harus pulang dan memberi dukungan pada bisnis yang dijalankan istrinya. Rutinitas pekerjaan kadang membuatnya sangat bsan tetapi itulah yang kemudian lama kelamaan mendidik hatinya untuk bisa melihat segala sesuatu dengan rasa syukur.

Simon sendiri beryukur dengan sharing teman-temannya yang sudah senior. Betapa semuanya kaya pengalaman dan makna. Sejak memutuskan resign dari Kalbe dan mengembangkan Lontar Edukasindo yang dihadapi adalah rasa sepi dalam bekerja. Simon merasa tertantang harus mengembangkan serius passionnya selama ini membangun karakter anak muda.

Pada dasarnya kami semua menyadari bahwa keterbukaan pada kehadiran Tuhan merupakan hal yang penting agar kita benar-benar memahami kehendakNya. Kesungguhan kita menjalankan setiap perutusan menjadi sumber kekuatan saat menghadapi desolasi, kesepian, kekacauan. Dalam setiap langkah dalam pekerjaan kita sehari-hari kita selalu bisa dan penting memanfaatkan tools yang diberikan Santo Ignatius : tahu mana yang sarana, mana yang tujua sehingga tidak salah arah.

 

Read more
Skip to toolbar